Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2017

Laila dan Majnun

Telah sampai cherita bahwa pada suatu hari Sultan Mahmud Ghaznawi menitahkan pesuruh2nya supaya membawa Laila menghadapnya agar dapat ditanyai peri kisah kekasihnya Majnun.

Apabila tiba Laila dihadapannya Baginda bertanya: "Wahai Laila, kau yang kechantikanmu mashhur seluruh alam; yang kasih sayangmu menjadi sumber segala puisi!—aku ingin menatap wajah Majnun, ingin tahu sifat rupa yang kau chintai dengan teguh dan jujur itu."

Maka Laila menjawab seraya menangis mengenangkan Majnun bahwa kekasihnya telah hilang tiada yang tahu kemana.

Mendengar ini Baginda menitahkan kepada pesuruh untuk menchari Majnun hingga dapat supaya dibawa dihadapannya. Pesuruh menchari dikota, dikampung, didusun hingga akhirnya diperpinggiran batasan negeri dan luasan padang pasir. Disitu beliau mendapat khabar bahwa ada seorang yang berdiam sebatang-kara dipadang pasir merayau merana senantiasa menzikirkan nama Laila bagai orang sudah gila.

Orang itu dibawa kehadapan Baginda Sultan yang, sambil terk…

Memilih Kompeten dan Integriti, Ketimbang Agama

Mungkin, dengan izin Tuhan, satu hari nanti dalam persoalan melantik pemimpin dan kerajaan, pengundi lagi memilih kompetensi dan integriti, ketimbang agama. Di Malaysia, kita masih bergelumang dalam kekeliruan begini. Keliru, antara memilih agama atau kompetensi dan integriti.

Pengundi di Malaysia, begitu mudah terlalai dan terpegun dengan politikus yang mampu mengucap beberapa baris ayat Quran dalam ucapan mereka, menindik keratan hadis pada hujah dan perlakuan mereka.

Atau, yang menjadikan agama sebagai umpan untuk membakar jurang perbezaan, untuk mencetus kemarahan dengan mengapi-apikan sentimen sempit, yang bertujuan jahat—menimbulkan syak wasangka, kebencian antara satu sama lain.

Lagi malang, agama digunakan sebagai batu loncatan untuk menggapai kuasa dan undi. Agama menjadi kain pengelap kaki, yang gunanya untuk meraih sokongan yang berakar pada sentimen dan benci pada mereka yang tidak mempercayai Tuhan yang sama dengan mereka.

Bertambah malang, agama digunakan sebagai perisai…

Dizziness of Dream Big

Last year, before 2016 was ended, I wrote about the progress we have made so far in our start-up journey. Starting with consistently putting hours in our coding classes, then proceed with prototype building process, we got quite confident this year—2017—will become something for us.

Yes, I should say so. 2017, so far is different.

Most significantly, our way of looking and analysing something. We think we are on the right track for our self-challenge this year: building a strong fundamental for building something meaningful and contributing something towards solving the problems facing by many in years to come.

However, this journey is not easy. Yet, we found it were exhausting. And, still is. The most part that exhaust us was the confabulations with our self-doubts. Sometimes, the one who needs constant reminder are ourselves.

The reminder, to not giving it up our dream.

The reminder, to keep going and keep doing.

The reminder, to look upon our own steps, retreating and reanalysed.

T…