Skip to main content

Cita-Cita Kerdil Nan Hina

Tirai 2016 berlabuh. Hari ini, kita bermula dengan tirai yang baru, 2017. Moga tahun ini terus melengkapkan nuansa diri kita menjadi manusia yang berguna, berprinsip dan membawa kebaikan kepada manusia seluruhnya.

Rangkap puisi O Me! O Life!, karya Walt Whitman mungkin mampu menyingkapi kepada kita jawapan kepada beberapa persoalan tentang hidup;

The question, O me! so sad, recurring—What good amid these, O me, O life?
Answer;
That you are here—that life exists and identity,
That the powerful play goes on, and you may contribute a verse.

Kita cumalah pemain yang kecil, yang ditugaskan untuk melengkapkan bahagian kita—tugas, tanggungjawab, amanah—di atas muka bumi ini, dengan matlamat akhirnya adalah membawa kebaikan kepada seluruh umat manusia.

Itulah frasa yang perlu kita mainkan, lengkapkan, dalam hidup kita di dunia ini; agar dengan itu pada akhirnya akan terhasil sebuah layar lakon yang serba indah dan saling melengkapi.

Pengakhiran 2016, saya secara peribadi bersua dengan pelbagai persoalan yang cukup berat, memenatkan, lantas terkadang datang hasutan jahat secara tak disengajakan untuk pergi jauh meninggalkan segala keserabutan tersebut.

Paling mudah, pergi jauh meninggalkan segala keserabutan tanggungjawab dan amanah tersebut—beban untuk berbuat baik dan menjadi manusia yang berbuat baik kepada manusia yang lainnya. Mungkin, pergi mengembara jauh dari sini.

Beban untuk berbuat sesuatu yang baik, agar ada dan tiadanya kita di sini, manusia kepingin pada kelibat dan sosok kita. Bukan pada sudut fizik, tetapi saya menulis pada hal yang bersangkutan meta—darihal sumbangan kebaikan, pada kemanusiaan, pada kasih sayang, pada kebijaksanaan dan keadilan.

Agar, segala cita-cita dan hal yang kita berbuat di muka bumi ini, tidaklah sekadar melingkar ketat pinggang kita, memboyot perut rodong kita cuma; tetapi jauh lebih bermakna, jauh lebih besar ertinya pada kemanusiaan seluruhnya.

2017 sepatutnya mengajar kita akan hal ini. Dari sekalian banyak masalah yang dunia kita hadapi—kemiskinan, kebuluran, peperangan, keruntuhan moral—janganlah sehari-harian kita terlalui akannya dengan rasa kenyang dan puas pada diri kita sendiri cuma.

Cita-cita yang sebegitu, yang tidak membawa manfaat kepada mereka yang lainnya, cukup-cukup kerdil lagi hina. Cita-cita yang padanya hanya mengenyangkan tembolok sendiri, cukup-cukup kerdil lagi hina.

Moga 2017, kita belajar menjadi manusia yang bercita-cita besar lagi mulia.

Popular posts from this blog

Pengajaran Dari Sebuah Komik

Sejak kecil lagi, saya telah didedahkan dengan berbagai jenis komik bacaan ringan seperti Doraemon , Dewata Raya, Utopia, Naruto dan sebagainya. Namun ternyata saya lebih berminat untuk “mendalami” komik-komik Kung Fu karya penulis China seperti Tony Wong melalui karyanya Jejak Wira. Seperti biasa, kepulangan saya kali ini ke kampung halaman dalam misi menghabiskan beberapa buah Jejak Wira yang dibeli oleh abang semasa ketiadaan saya di rumah.

Ternyata plot ceritanya meskipun panjang dan tak pasti bila penghabisannya namun ia tetap tidak membosankan. Menjadi semakin menarik dan sukar bilamana ia melibatkan pergolakan politik dunia yang terang-terang menyebelahi siapa yang kuat dia yang menang.

Setelah “menelaah” kesemua komik muktabar ini saya seakan terpanggil untuk mengulas karya Tony Wong iaitu Jejak Wira yang mana saya kira ianya amat dekat dengan apa yang berlaku kini di dunia realiti.


Bagaimana para penguasa negara sanggup membutakan hati dan mata demi kepentingan nafsu mereka…

Homosexuals and The Idea of Abnormality

Once ago, my friend and me have a little chat about stuff—if not mistaken, we gossiping a hot Math teacher from Italy, and from where it began, we start talking about gay and LGBT.

The pinnacle of it was when my friend proudly declares the gay people is abnormal.

I just sit still, silent and stunned.

I should start somewhere. Here it is, for myself, to be abnormal is to be true to oneself. And it is a kind of freedom that I longingly seek and understand, that is to be true to yourself, to who you are.

It is a freedom to be able to against the flow. It is a freedom when we do not favor the external to validate ourselves. To do this, first, we have to be abnormal, in the eye of the many.

Anyway, I don’t mean to philosophize anything here. It is just a version of abnormality that I always think and perceived before, and luckily (no pun intended), that day comes when my friend bluntly declare homosexuality is abnormal.

And, I have to revisit my thought on abnormality.

I am OK with her…

Laila dan Majnun

Telah sampai cherita bahwa pada suatu hari Sultan Mahmud Ghaznawi menitahkan pesuruh2nya supaya membawa Laila menghadapnya agar dapat ditanyai peri kisah kekasihnya Majnun.

Apabila tiba Laila dihadapannya Baginda bertanya: "Wahai Laila, kau yang kechantikanmu mashhur seluruh alam; yang kasih sayangmu menjadi sumber segala puisi!—aku ingin menatap wajah Majnun, ingin tahu sifat rupa yang kau chintai dengan teguh dan jujur itu."

Maka Laila menjawab seraya menangis mengenangkan Majnun bahwa kekasihnya telah hilang tiada yang tahu kemana.

Mendengar ini Baginda menitahkan kepada pesuruh untuk menchari Majnun hingga dapat supaya dibawa dihadapannya. Pesuruh menchari dikota, dikampung, didusun hingga akhirnya diperpinggiran batasan negeri dan luasan padang pasir. Disitu beliau mendapat khabar bahwa ada seorang yang berdiam sebatang-kara dipadang pasir merayau merana senantiasa menzikirkan nama Laila bagai orang sudah gila.

Orang itu dibawa kehadapan Baginda Sultan yang, sambil terk…