Saturday, December 24, 2016

Building Our First Prototype

This is my prompt update, regarding what we have been working for the past two months, starting exactly on 1st November. It is in my intention way long before to start this write-up focusing on our startup journey.

Yes, you hear it right. We have been working building our startup. Not really a startup yet, since we have nothing to show for the time being. Or at least I could say we have our plan, and we are working on that now.

Today, we start building our first prototype.

Kind of bemused, to be honest, to think again how we start all of these.

It starts with an idea to explore the world outside our comfort zone. We start talking about big data, how data influence people and how big data will become our future economy.

Then we coming to the word “coding”. We kind of convinced, to explore the potential of big data, we should start somewhere. It was then, become our turning point, where we actually start seriously consider the importance of coding and computational programming.

It is like we are coming to terms, of believing that ourselves have to start to learn to code.

It was then, we are putting our thought about building our own startup.

On the 1st November, we start our very first coding class, by registering and exploring FreeCodeCamp.com—a website where anyone can learn to code free of charge, step by step.

Since then, every day we are sitting exactly on 7 in the morning at our university’s library foyer, learning to code. All of us, none having any fundamental in coding or programming, except for me, since I took a C++ class before during undergraduate.

Long story short, today, we built our first prototype. It consists several main parts for our website which later will be integrating with our mobile application. What will our website and mobile application actually be doing?

For that particular question, no we cannot reveal it yet since we are still working building and adjusting our business model canvas.

Nonetheless, my intention to share the story of what we are doing today is, you can achieve whatever you are dreams, as long as you are willing to put efforts and passion for that.

If you ask any of us, either we ever think that one day we are building our prototype by ourselves, without hiring any freelance developer, the answer was big no. Never crossed our mind that one day, we could do what we are doing today.

We are still learning, and we have certainly a way long journey ahead. We realise this trip is not easy, and never intended to be the easy one. We just try our best, and we did what we are deem to, for chasing our dream and for playing our part in this beautiful life.

We believe, in 2017, this challenge will be more exciting. We cannot wait for that.

Tuesday, December 20, 2016

26 Tahun

Usia tidak memberi perlambangan yang signifikan pada kebijaksanaan, hikmah dan akal budi. Biarpun angka yang mewakili carta usia sering dijadikan kompas penilikan dalam banyak perkara, hakikatnya usia hanyalah sekadar usia. Usia hanyalah angka-angka, dan angka adalah angka—tidak lebih dari itu.

Saya membaca kisah VM Vaughn, yang mula menerokai dunia pengaturcaraan komputer saat usianya sudah menjengah angka ke-56. Alasan beliau mudah, hidup ini adalah perlawanan dan perlawanan paling agung adalah dengan dirinya sendiri.

Maka, untuk mengambil keputusan mempelajari bahasa komputer saat usianya sudah memasuki fasa senja, adalah bukan hal yang mudah, untuk kebanyakan orang—termasuklah dirinya, tetapi beliau melawan dan beliau menang.

Pada beliau, angka pada usianya itu, hanyalah angka. Tiada lebih dan tiada kurang.

Saya juga membaca kisah John Washam, yang juga usianya sudah hampir mencecah separuh abad, memulakan projek pembelajaran kendiri bagi pengaturcaraan komputer secara intensif selama 8 bulan.

Mengapa beliau sanggup berbuat begitu, sedangkan beliau sendiri sudah bergaji lumayan, berkedudukan dan stabil?

Mengapa bersusah payah sebegitu rupa, sedangkan dia punya pilihan lain yang lebih nyaman dan menyeronokkan, tambahan pula usianya yang sudah makin senja?

Alasan yang hampir serupa Vaughn. Untuk menikmati erti hidup, demikianlah caranya.

Seolah-olahnya, usia pada mereka hanyalah mitos, yang menjadikan manusia sering dalam delusi. Lantaran momokan mitos begitu, manusia menjadi majnun hanya teringatkan pada angka usianya yang makin membesar nilainya.

Hairan, apabila manusia kegusaran pada angka usianya, tetapi langsung tidak betah pada isi usianya itu. Mereka gusar pada angka—yang sifatnya kulitan, superfisial—tetapi mereka tidak gusar pada makna usianya dan kewujudannya.

Lantas, yang terlahir adalah manusia yang lupakan usul jadinya, usul tujuan kewujudannya; untuk terus hidup dan mencari makna mengapa dia hidup.

Saya teringat pada kata-kata Theodore Roosevelt, yang dilorek pada memorialnya, di Washington DC; yang mana satu babak dalam filem Snowden, watak utamanya kelihatan merenung dalam pada kata-kata yang dilorek atas marmar putih tersebut.

Roosevelt bercakap perihal makna hidup ini apa, dan bagaimana sebenarnya manusia yang benar hidup bersikap pada menyingkapi makna tersebut. Kata beliau;

“A man’s usefulness depends upon his living up to his ideals insofar as he can. It is hard to fail, but it is worse never to have tried to succeed. All daring and courage, all iron endurance of misfortune-make for a finer, nobler type of manhood. Only those are fit to live who do not fear to die and none are fit to die who have shrunk from the joy of life and the duty of life.”

Kata kuncinya, menjadi seorang pemberani. Berani, mendepani angka usianya sendiri. Berani melawan mitos pada angka usianya dan berbuat sesuatu yang memberi makna pada dirinya, pada sekalian manusia yang lainnya.

Bercakap darihal ini, fikiran saya melayang pada kisah Bernie Sanders.

Pada hemat peribadi, beliau contoh terbaik pada kata-kata Roosevelt di atas, manusia berusia emas, hidup dengan prinsipnya, berjuang atas prinsipnya, memaknai prinsipnya dengan membawa kebaikan kepada sebahagian besar penduduk Amerika Syarikat.

Saya terserempak dengan dua kisah di atas, dan juga kisah Sanders, pada ketika angka usia saya genap 26 tahun, pada hari ini.

Dari sisi ini, saya terfikir, dikotomi tua dan muda harus direjam sejauhnya ke dalam kerak bumi—kalau dikotomi tersebut tidak membawa keadilan pada kebaikan dan hikmah seseorang.

Pada akhirnya, kita bermuhasabah bahawa, makna yang ditanggung oleh angka usia kita, adalah sebuah kebertanggungjawaban pada menyebarluaskan kebaikan atas muka bumi ini.

Seperti yang ditunjuki Muhammad ﷺ ratusan tahun dulunya. Seperti yang ditunjuki oleh para pejuang kebebasan dan kemerdekaan—para pemberani—yang mengorbankan kenikmatan hidup, demi prinsip dan idea yang diimaminya.

Mungkin, saban tahun Tuhan mengurniakan kita takat angka usia, tiada lain tiada bukan, adalah untuk memperingati akan diri kita yang sering alpa, bahawasanya, inilah makna hidup, dan inilah maknanya yang sebenar.

26 tahun, masih banyak yang tidak terbuat, yang terlupa, yang alpa. Hari ini, tiadalah yang lainnya selain untuk mengingatkan diri sendiri bahawa, di hadapan sana, sudah tertunggu sekian banyak amanah dan tanggungjawab, makna dan hakikat yang harus diterokai, diamati.

A photo posted by Ahmad Tajuddin (@segubang) on


Moga takat usia ini, Tuhan merestuinya.

Friday, December 16, 2016

Mengapa Mahasiswa Lelah Partisipasinya Dalam Wacana Kritikal?

Ketika saya meminta seorang rakan menonton video wawancara Jack Dorsey bersama Edward Snowden yang disiar langsung menerusi akaun Twitter @PardonSnowden, soalan pertama yang terpacul dari mulutnya adalah; “Siapa dia ni?”

Pada mulanya, saya kekagetan.

Kaget, kerana dunia hampir meletup akibat pendedahan Snowden, rakan saya masih belum kenal siapa lelaki itu, apa yang telah beliau lakukan, malah, yang lebih terkesan pada saya, apabila dia kelihatan langsung tidak apologetik dengan keadaan dirinya yang tidak tahu menahu akan hal ini.

Saya beranggapan, pada ketika dunia Internet yang rancaknya tidak terkata pada hari ini, orang ramai (pengguna) tentunya akan memahami betapa kritikal keperluan pada wacana-wacana yang melingkari dunia Internet.

Dan, dari rasa keperluan itu, akan terlahir pada diri masing-masing, pada kemahuan untuk turut serta (kehendak partisipasi) dalam wacana-wacana tersebut.

Anggapan saya begitu. Ternyata saya silap, apabila merujuk kepada kes rakan saya itu, atas sebab saya kenal dia adalah antara rakan saya yang begitu kritis dalam wacana kepolitikan domestik.

Maka, saya membina deduksi bahawa; jika dia kritis pada wacana kepolitikan domestik atas sebab dia merasa dirinya adalah sebahagian daripada sistem tersebut, samalah jua apabila dia menjadi sebahagian daripada dunia Internet (pengguna), justeru seharusnya dia juga kritis terhadap sistem dunia Internet.

Seyogia, deduksi saya silap. Dia tidak kritis terhadap dunia Internet, natijahnya, dia tidak mengambil tahu wacana yang melingkari dunia Internet, apatah lagi untuk partisipasi dalam mana-mana wacana tersebut.

Logiknya mudah, jika kita tidak merasa kepentingan akan sesuatu perkara tersebut, maka secara automatiknya kita tidak merasa keperluan untuk mengambil tahu akan hal tersebut.

Konsep yang sama, saya fikir, boleh menjawab persoalan mengapa wacana kritikal yang melingkari hal kenegaraan, kepolitikan, perekonomian dan sosial negeri raya kita ini, tidak mendapat perhatian anak muda, khususnya mahasiswa.

Mereka merasa, tiada keperluan untuk melibatkan diri, partisipasi dalam wacana tersebut. Mengapa itu terjadi?

Mudah, kerana mereka tidak merasa bahawasanya diri dan jiwa mereka adalah sebahagian kepada sistem-sistem (unaware that they are part of the system) tersebut.

Antara persoalan yang sering menjadi buah tanya kami semua yang terlibat dalam gerakan mahasiswa di kampus, adalah mengapa rakan-rakan kami yang lainnya kelihatan tidak merasa keperluan untuk terlibat dalam isu-isu politik dan ekonomi, sedangkan keperluan partisipasi mahasiswa dalam wacana-wacana tersebut sifatnya adalah sangat kritikal terhadap masa depan negara kita sendiri.

Mungkin saya perlu berterima kasih kepada rakan saya yang tidak kenal lelaki bernama Snowden itu, kerana kekagetan saya terhadap soalannya akan siapa Snowden-lah yang menyebabkan saya mendapat jawapan kepada soalan di atas.

Bahawa, pertamanya, wacana politik dan ekonomi tidak bersambut dalam kalangan mahasiswa kerana mereka tidak sedar akan diri mereka adalah sebahagian daripada sistem tersebut.

Bahkan, lagi haru apabila mereka menyamataraf wacana kepolitikan dan perekonomian tersebut dalam lingkup politik partisan, lantas yang diterjemahi adalah sikap meluat terhadap segala yang bersangkutan dengannya, tanpa disedari fungsi pemikiran kritis langsung dipinggiri.

Saya mahu mengulang istilah malapetaka—bahawa terpinggirnya fungsi pemikiran kritis dalam kalangan mahasiswa adalah malapetaka terhadap masa depan negeri raya kita ini.

Terlanjur dari deduksi tersebut, saya boleh menyatakan dengan aman di sini bahawa, langkah pertama jika kita benar mahu mencipta arus wacana yang baru—wacana yang disifatkan tidak tumpul, menggugat, keluar dari kelongsong wacana anti-UMNO yang sudah kelihatan makin lusuh—adalah dengan mendesak kesedaran bahawa kita adalah sebahagian daripada sistem yang kita hidup pada hari ini.

Saya menggunakan istilah “mendesak kesedaran”, bukan lagi menimbulkan kesedaran. Pada hemat saya, kesedaran tidak akan timbul dengan sendirinya. Kesedaran perlu didesak, barulah ianya akan terpercik.

Sebagaimana, mengambil contoh popular, tindakan Mohamed Bouazizi yang berjaya mendesak kesedaran masyarakat di Libya terpercik pada wacana salah guna kuasa di negara tersebut.

Saya tidak memaksudkan desakan dari sisi melawan secara keras atau persenjataan semata-mata, tetapi langkau dari maksud yang sempit begitu. Premis saya, kesedaran masyarakat untuk melibatkan diri dalam mana-mana wacana, harus didesak.

Sudah pasti akan timbul berbagai soalan lagi, lanjut dari lontaran tersebut.

Paling tidak, kekagetan saya terhadap rakan yang tidak tahu menahu perihal Snowden, membuahkan jawapan terhadap persoalan yang begitu panjang diperdebatkan dalam kalangan aktivis gerakan mahasiswa.

Mungkin, ada baiknya saya sertakan di sini jawapan Snowden kepada soalan terakhir Jack Dorsey, yang menanya perihal bagaimana untuk memastikan generasi anak muda hari ini tidak menormalkan isu government surveillance.

The normalization anything whether it’s a surveillance, injustice, inequality, is going to be a challenge because ultimately as individuals we have a smaller voice than these huge institutions. What we need to do is we need to first-off explain what it is that we believe and share it, debate it, figure out what matters and why, within our families, within our communities around. You know, to recognize that it’s not just about surveillance. Lot of people think about 2013, about NSA spying on us—yes, it’s true they are, but that’s not the issue. Surveillance is a global problem and it’s only the smallest part of the issue. What we’re talking about is democracy. What we’re talking about is civil empowerment. What we’re talking about is the relationship between the governing and the government of the ordinary citizens. There has been an increasing imbalance of power, where that idea of private citizens and public officials has been inverted—where instead of them knowing very little about us and us knowing very much about them—now they have classification, now they have state secrets that can hide behind their power. We know almost nothing about what public officials are doing.

Thursday, December 15, 2016

Malang Negeri Para Maling

Enjin carian Google untuk sekian kalinya menyiarkan tema-tema utama yang menjadi kata kunci carian pengguna Malaysia sepanjang 2016. Tujuh dari carian paling tinggi pengguna Malaysia, adalah berkisaran hal-hal hiburan.

Selebihnya, mereka mencari tentang BR1M. Tidak pelik, mungkin perut mereka sudah kelaparan seusai melayan Suri Hari Mr Pilot, maka mereka mula merayap mencari duit suapan kerajaan pula.

Malang, dalam pada negeri raya ini dipenuhi para maling, penyamun khazanah berbilion Ringgit, apparatchik yang siang dan malam tekun menjerut leher kita—manusia jelatanya masih tersesak dengan hal-hal tetek banget, seumpama negeri ini makmur sentosa ekonominya.

Penyamun tentunya tersenyum bahagia, saat melihat mangsa mereka leka hanyut, tidak mengerti apa-apa. Terus bodoh. Kekal lelan. Umpan mengena, penyamun berbisik sesama mereka.

Malang, saatnya di luar negeri raya ini dunia kekagetan darihal 1MDB, tertanya-tanya perihal diamnya khalayak di Malaysia, akurnya mereka pada propaganda murahan yang dijajai apparat dan para maling—kita merasa tiada apa-apa, tenang biasa, tiada gusar, tidak gundah gulana.

Pada kita semua, cukuplah esok paginya masih boleh merasa sesuap nasi kosong berulam garam, sesekali kasih kita pada penyamun di kota Putrajaya tiada pernah pudar. Wajib jua si bedebah maling itu dipertahankan, diangkat dipuja.

Malang, pada kita semua—si bedebah yang sebenar.

Untuk mengambil pendirian berkecuali dari hal-hal kepolitikan, atau hal partisan yang melelahkan, adalah suatu perkara. Tetapi untuk berterusan menjadi ignoramus dalam menunjuki sikap pada hal yang melibatkan moral, adalah suatu perkara yang lain sama sekali.

Yang dahulunya itu, adalah normal pada saat negeri raya ini makmur sejahtera. Yang terkemudian itu, adalah petunjuk bahawa kita semua sedang sakit yang amat, kita-lah bedebah yang sebenar.

Moga pemilik alam raya ini, masih sanggup memaafi dosa kita semua pada anak cucu kita kelak.

Wednesday, December 7, 2016

Resist.

Dalam tulisan ringkas sebelum ini, saya menulis perihal kelahiran UMNO 2.0 dan menyifatkannya sebagai malapetaka kepada negara kita. Kedengaran agak lancang, tetapi secara peribadi, saya anggap itu sudah cukup lembut.

Boleh saja, kita gelarkan ia sebagai kelahiran kaum bebal, atau gerombolan pandir—yang mengulang tesis masyarakat lambak oleh Ortega Gasset dalam tulisannya pada abad ke-20. Itu lebih lancang dan keras.

Tetapi, tidak cukup dengan gelar-gelar begitu yang bersifat abstrak (atau layaknya, halwa telinga), terapung tiada jawapan. Tidak terlahir dari gelar-gelar begitu, akan sebuah wacana yang boleh menjadi jurutelunjuk fikir dan cakap masyarakat seluruhnya.

Maka, difikirkan, bahawa tiba masanya yang menuntut adanya perubahan pada pendekatan ini.

Perubahan itu, pada maksud kelahiran arus kebangkitan gerakan yang bersifat dengan sifat yang baharu yakni baharu dari sudut kemampuan pencernaan wacana yang berwajah baru dan relevan, pembinaan idealisme yang baru dan relevan, kompas sikap dan moral yang baru dan relevan.

Baru dan relevan, pun begitu masih abstrak, bersifat konsep, masih lagi seputar tema-tema yang besar. Tiada penyudah yang kita boleh catat, tiada strategi dan pendekatan yang kita boleh kedepankan.

Cumanya, kita berada pada satu tahap kesedaran peri pentingnya berkehendak kepada matlamat tersebut. Kita insaf, malapetaka yang sedang melanda sekarang, mewajibkan kita bergerak untuk berbuat sesuatu. Persoalannya, sesuatu itu apa?

Tema paling besar dan cukup popular, adalah kita mahukan perubahan. Semua lapis masyarakat di Malaysia; mahukan perubahan. Acap kali, dan mutakhir, gesaan kepada perubahan adalah disamatarafkan kepada perubahan kerajaan UMNO/BN ke pakatan pembangkang.

Jadinya, faham perubahan kepada rata-rata masyarakat adalah, perubahan kerajaan dari UMNO/BN ke pakatan pembangkang. Jika itu terjadi suatu hari nanti—yakni tampuk perintah kerajaan bertukar tangan, maka kita akan merasa bahawa kita sudah mencapai perubahan yang diidamkan.

Ya, pada rata-rata masyarakat hari ini, perubahan adalah berubahnya tampuk perintah kerajaan. Tidak lebih tidak kurang dari itu. Walhasil faham ini hanya memakan diri kita sendiri. Mengapa?

Faham perubahan begini terhasil dari wacana yang sedang kita mamah saban waktu saban hari, pada hari ini. Wacana anti-UMNO, atau anti-kerajaan. Hari ini, kita akan merasa pelik jika masih wujud mana-mana anak muda yang tidak anti-UMNO. Terus kita akan tertanya-tanya, di mana silap sehingga anak muda tersebut masih tergamak merasa sayang pada UMNO.

Ringkasnya, wacana anti-UMNO sudah bersifat mainstream, popular, tiada lagi keintiman wacana tersebut dengan proses perkembangan idealisme dan gagasan-gagasan kemasyarakatan. Yang berbaki adalah, sentimen. Tukang pandu kepada wacana anti-UMNO, sebahagian besarnya adalah sentimen.

Maka, kita memandang perkara ini sebagai suatu yang tidak sihat, cacat, tercela apabila didekap pada batang tubuh seorang mahasiswa, terutamanya. Perlu ada beza, sosok mahasiswa dengan orang kampung yang tiada ijazah. Makanya, tulisan ini dituju kepada kelompok masyarakat yang digelar mahasiswa.

Saya terfikir akan suatu usaha perlu dilakukan, di peringkat mahasiswa, untuk membawa dan mencernakan idea ini. Kelesuan gerakan mahasiswa pada hari ini, bertitik tolak dari kelesuan wacana yang didokong oleh gerakan-gerakan yang wujud pada hari ini.

Jangan salah faham, bahawa ini juga adalah teori. Maka terbuka kepada mana-mana sisi yang tidak bersetuju dengan teori ini. Wacana—diterangkan contoh dalam perenggan awal—yang bersifat ulangan, tiada pembaharuan, tiada jati diri, menyebabkan wacana tersebut makin lusuh, makin tumpul dan tidak mengancam.

Wacana-wacana, baik dari politiknya, atau ekonominya, atau sosialnya, yang sedia ada pada hari ini, berkisaran depan ke belakang, belakang ke depan, pada pola yang lebih kurang sama. Setiap apa yang dikatakan sebagai “aksi” pun masih sama begitu.

Tiada suatu yang menggugat. Tumpul. Wacananya tidak lagi menjadi igauan ngeri kepada pemerintah, atau sesiapa yang akan mengambil alih tampuk pemerintahan kelak. Ataupun, lagi mengharukan, apabila wacana tersebut tidak mampu menawarkan harapan, mimpi-mimpi.

Wacana yang tersedia ada, sudah menjadi trend, atau imej. Menyedihkan, apabila imej tersebut hanya terlekat pada kulit, bukan isinya.

Seyogia wacana itu memencak idealisme kendiri, menjadikan setiap insan yang mendukung wacana tersebut tidak boleh duduk diam, resah senantiasa, tetapi kini wacana tersebut cuma tinggal laungan kosong, tiada lagi rasa getaran yang menolak-nolak dirinya untuk berbuat sesuatu.

Justeru, saya berhajat untuk memulakan sesuatu dengan mengumpul barang satu dua cebisan catatan dari mana-mana diskusi seputar hal ini, sebagai sebuah siri catatan idea, yang mungkin bersifat longgokan, yang kemudiannya boleh disusun, dianalisis, dibaca semula, ditambah mana yang kurang, dibuang mana yang tiada penting.

Bahawa, pada akhirnya, boleh dijilid sebagai sebuah kertas kerja dengan izin Tuhan sebagai rujukan untuk masa-masa akan datang. Projek ini, adalah projek melawan—bukan melawan UMNO, tetapi melawan arus wacana yang statik, lusuh dan tumpul.

Saya mahu namakan ia sebagai PROJEK RESIST.