Skip to main content

Kepedulian Politik Murahan

Khairy Jamaluddin mempertahankan isu kelewatan pemboikotan pasukan Malaysia terhadap AFF Suzuki Cup 2016, bertitik asal dari berita pembantaian etnik Rohingya yang baru tersebar luas kononnya pada minggu lepas.

Kata dia, laporan pembunuhan besar-besaran yang terbaru hanya keluar minggu lepas. Check the news, katanya Khairy.

Politikus begini, adalah politikus murahan. Hal yang sama juga terampil pada mana-mana organisasi yang "bising-bising" pasal Rohingya sehari dua ini.

Rohingya bukan berlaku semalam, atau minggu lepas.

Pembunuhan besar-besaran yang kononnya, baru tersebar minggu lepas seperti didakwa Khairy, sudah diberi liputan berbulan lamanya oleh Human Rights Watch (HRW). Malah jika diambil kira dari keseluruhan laporan HRW, sudah bersiri laporan mengenai Rohingya dikeluarkan.

Ketika kita setahun 2015 mengepalai ASEAN, pernah diusulkan dalam mana-mana sidang parlimen untuk membincangkan hal Rohingya? Mana Khairy waktu itu?

Cuma tinggal sekarang, menteri kita buta, kepimpinan kita sifar conscience. Tidaklah hairan, baru minggu ini dia tersedar akan krisis tersebut.

HRW merayu pada ASEAN Summit 2016 supaya tidak meminggirkan Rohingya dari meja perbincangan mereka. Tetapi, waktu itu, sekitar Februari 2016, di mana hilangnya kemanusiaan Malaysia?

Atau, ketika kita menghambat keluar bot pelarian Rohingya dari berlabuh di pinggiran pantai Malaysia, mengapa semua politikus murahan ini membisu?

Ketika itu, kalau kita diizinkan untuk bertanya, tidak terlintas pada benak Khairy akan nama Myanmar selaku tuan rumah AFF Suzuki Cup 2016?

Politik murahan mewajahkan kepedulian murahan.

Barry Malone (Al Jazeera English) pernah merungut hal yang sama ketika video 'The Boy in the Ambulance' meletup dimainkan seluruh media. Hal yang sama—selective humanity. Kepedulian yang boleh menjual nama mereka, yang boleh melariskan akhbar mereka.

Kepedulian kita, tertanggung pada sensasinya sesuatu krisis. Kemanusiaan kita, wujud pada ketika kepolitikan menuntut perhatian dan populariti.

Teruskanlah bermain tarik tali pada hal-hal kemanusiaan. Teruskanlah kepedulian yang penuh kepura-puraan. Teruskanlah. Cuma seminggu dua ini sahaja nama Rohingya disebut-sebut oleh media Malaysia, selepas itu usah kita harapkan ia timbul lagi.

Tiada bola sepak tanpa kemanusiaan, kata Khairy. Maaf, sebetulnya: tiada kemanusiaan pada kepedulian murahan begini.

Comments

Popular posts from this blog

Laila dan Majnun

Telah sampai cherita bahwa pada suatu hari Sultan Mahmud Ghaznawi menitahkan pesuruh2nya supaya membawa Laila menghadapnya agar dapat ditanyai peri kisah kekasihnya Majnun.

Apabila tiba Laila dihadapannya Baginda bertanya: "Wahai Laila, kau yang kechantikanmu mashhur seluruh alam; yang kasih sayangmu menjadi sumber segala puisi!—aku ingin menatap wajah Majnun, ingin tahu sifat rupa yang kau chintai dengan teguh dan jujur itu."

Maka Laila menjawab seraya menangis mengenangkan Majnun bahwa kekasihnya telah hilang tiada yang tahu kemana.

Mendengar ini Baginda menitahkan kepada pesuruh untuk menchari Majnun hingga dapat supaya dibawa dihadapannya. Pesuruh menchari dikota, dikampung, didusun hingga akhirnya diperpinggiran batasan negeri dan luasan padang pasir. Disitu beliau mendapat khabar bahwa ada seorang yang berdiam sebatang-kara dipadang pasir merayau merana senantiasa menzikirkan nama Laila bagai orang sudah gila.

Orang itu dibawa kehadapan Baginda Sultan yang, sambil terk…

Pengajaran Dari Sebuah Komik

Sejak kecil lagi, saya telah didedahkan dengan berbagai jenis komik bacaan ringan seperti Doraemon , Dewata Raya, Utopia, Naruto dan sebagainya. Namun ternyata saya lebih berminat untuk “mendalami” komik-komik Kung Fu karya penulis China seperti Tony Wong melalui karyanya Jejak Wira. Seperti biasa, kepulangan saya kali ini ke kampung halaman dalam misi menghabiskan beberapa buah Jejak Wira yang dibeli oleh abang semasa ketiadaan saya di rumah.

Ternyata plot ceritanya meskipun panjang dan tak pasti bila penghabisannya namun ia tetap tidak membosankan. Menjadi semakin menarik dan sukar bilamana ia melibatkan pergolakan politik dunia yang terang-terang menyebelahi siapa yang kuat dia yang menang.

Setelah “menelaah” kesemua komik muktabar ini saya seakan terpanggil untuk mengulas karya Tony Wong iaitu Jejak Wira yang mana saya kira ianya amat dekat dengan apa yang berlaku kini di dunia realiti.


Bagaimana para penguasa negara sanggup membutakan hati dan mata demi kepentingan nafsu mereka…

Homosexuals and The Idea of Abnormality

Once ago, my friend and me have a little chat about stuff—if not mistaken, we gossiping a hot Math teacher from Italy, and from where it began, we start talking about gay and LGBT.

The pinnacle of it was when my friend proudly declares the gay people is abnormal.

I just sit still, silent and stunned.

I should start somewhere. Here it is, for myself, to be abnormal is to be true to oneself. And it is a kind of freedom that I longingly seek and understand, that is to be true to yourself, to who you are.

It is a freedom to be able to against the flow. It is a freedom when we do not favor the external to validate ourselves. To do this, first, we have to be abnormal, in the eye of the many.

Anyway, I don’t mean to philosophize anything here. It is just a version of abnormality that I always think and perceived before, and luckily (no pun intended), that day comes when my friend bluntly declare homosexuality is abnormal.

And, I have to revisit my thought on abnormality.

I am OK with her…