Skip to main content

Menjarah Manusia Berjiwa Feudal

Tulisan Pang Jo Fan dalam The Malay Mail Online mengenai tahap kesedaran pelajar Malaysia di luar negara yang tidak mempunyai rasa ingin ambil tahu, atau tepatnya, rasa ingin ambil tanggungjawab pada apa yang berlaku dalam situasi politik negara mutakhir, adalah tepat untuk menggambarkan keadaan manusia berjiwa feudal.

Manusia feudal, adalah manusia yang berjiwa hamba. Manusia yang makan minumnya, percaya bahawa ada tuan besar yang menentukan untuk dirinya selain Tuhan, dan sesekali tidak dia berani untuk menongkah kelaziman begitu.

Seperti untaian Alejandro Jodorowsky yang dipetik oleh Pang Jo Fan, seekor burung yang terkurung dalam sangkar sempit semenjak hari ia menetas, sudah pasti ia akan menganggap kemampuan untuk terbang itu adalah suatu bentuk penyakit atau kecacatan.

Padahal, ia sedang jahil – tidak tercerah dengan makna dan hakikat yang sebenar mengenai kebebasan, sesuatu yang tak terbatas.

Analogi burung yang terperangkap dalam sangkar sempit ini, menjadi cukup cocok dengan jiwa seorang manusia berjiwa feudal. Manusia ini, akan menyalak seperti anjing kelaparan mempertahankan tuan besarnya, biarpun si tuannya itu sudah bertimpa-timpa dihujani salah laku dan tuduhan pecah amanah.

Pada mereka yang berjiwa feudal, kelangsungan untuk makan dan minum, mengenyangkan perut rodong masing-masing, memenuhkan tembolok harta peribadi, adalah lebih terutama dari soal integriti, amanah, moral dan apatah lagi rasa bertuhan.

Untuk golongan sebegini, laras bahasa intelektual tidak lagi mampu memberi apa-apa kesan. Jauh sekali untuk membawa mereka berubah, menyedari makna sebuah kebebasan. Jiwa mereka terkongkong, gementar pada ilusi kuasa yang dicipta-cipta oleh tuan besar mereka.

Tiada laras bahasa yang sesuai untuk mengubah mereka lagi. Kata Usman Awang, laras bahasa yang sesuai untuk mereka adalah laras bahasa kurang ajar. Beliau mengungkapkan secara jitu, dalam puisinya yang berjudul “Kurang Ajar”,

Sebuah perkataan yang paling ditakuti
Untuk bangsa kita yang pemalu. 
Sekarang kata ini kuajarkan pada anakku;
Kau harus menjadi manusia kurang ajar
Untuk tidak mewarisi malu ayahmu. 
Lihat petani-petani yang kurang ajar
Memiliki tanah dengan caranya
Sebelumnya mereka tak punya apa
Kerana ajaran malu dari bangsanya. 
Suatu bangsa tidak menjadi besar
Tanpa memiliki sifat kurang ajar

Hanya dengan cara begini, barulah jiwa feudal mampu dipecahbelahkan, dihenyak-renyuk.

Selagi malu dengan penindasan, selagi berhemah dengan pengkhianatan, selagi menunduk segan pada kezaliman—selagi itulah rakyat di tanah air ini terus menjadi hamba feudal.

Comments

Popular posts from this blog

Pengajaran Dari Sebuah Komik

Sejak kecil lagi, saya telah didedahkan dengan berbagai jenis komik bacaan ringan seperti Doraemon , Dewata Raya, Utopia, Naruto dan sebagainya. Namun ternyata saya lebih berminat untuk “mendalami” komik-komik Kung Fu karya penulis China seperti Tony Wong melalui karyanya Jejak Wira. Seperti biasa, kepulangan saya kali ini ke kampung halaman dalam misi menghabiskan beberapa buah Jejak Wira yang dibeli oleh abang semasa ketiadaan saya di rumah.

Ternyata plot ceritanya meskipun panjang dan tak pasti bila penghabisannya namun ia tetap tidak membosankan. Menjadi semakin menarik dan sukar bilamana ia melibatkan pergolakan politik dunia yang terang-terang menyebelahi siapa yang kuat dia yang menang.

Setelah “menelaah” kesemua komik muktabar ini saya seakan terpanggil untuk mengulas karya Tony Wong iaitu Jejak Wira yang mana saya kira ianya amat dekat dengan apa yang berlaku kini di dunia realiti.


Bagaimana para penguasa negara sanggup membutakan hati dan mata demi kepentingan nafsu mereka…

Homosexuals and The Idea of Abnormality

Once ago, my friend and me have a little chat about stuff—if not mistaken, we gossiping a hot Math teacher from Italy, and from where it began, we start talking about gay and LGBT.

The pinnacle of it was when my friend proudly declares the gay people is abnormal.

I just sit still, silent and stunned.

I should start somewhere. Here it is, for myself, to be abnormal is to be true to oneself. And it is a kind of freedom that I longingly seek and understand, that is to be true to yourself, to who you are.

It is a freedom to be able to against the flow. It is a freedom when we do not favor the external to validate ourselves. To do this, first, we have to be abnormal, in the eye of the many.

Anyway, I don’t mean to philosophize anything here. It is just a version of abnormality that I always think and perceived before, and luckily (no pun intended), that day comes when my friend bluntly declare homosexuality is abnormal.

And, I have to revisit my thought on abnormality.

I am OK with her…

Laila dan Majnun

Telah sampai cherita bahwa pada suatu hari Sultan Mahmud Ghaznawi menitahkan pesuruh2nya supaya membawa Laila menghadapnya agar dapat ditanyai peri kisah kekasihnya Majnun.

Apabila tiba Laila dihadapannya Baginda bertanya: "Wahai Laila, kau yang kechantikanmu mashhur seluruh alam; yang kasih sayangmu menjadi sumber segala puisi!—aku ingin menatap wajah Majnun, ingin tahu sifat rupa yang kau chintai dengan teguh dan jujur itu."

Maka Laila menjawab seraya menangis mengenangkan Majnun bahwa kekasihnya telah hilang tiada yang tahu kemana.

Mendengar ini Baginda menitahkan kepada pesuruh untuk menchari Majnun hingga dapat supaya dibawa dihadapannya. Pesuruh menchari dikota, dikampung, didusun hingga akhirnya diperpinggiran batasan negeri dan luasan padang pasir. Disitu beliau mendapat khabar bahwa ada seorang yang berdiam sebatang-kara dipadang pasir merayau merana senantiasa menzikirkan nama Laila bagai orang sudah gila.

Orang itu dibawa kehadapan Baginda Sultan yang, sambil terk…