Saturday, December 24, 2016

Building Our First Prototype

This is my prompt update, regarding what we have been working for the past two months, starting exactly on 1st November. It is in my intention way long before to start this write-up focusing on our startup journey.

Yes, you hear it right. We have been working building our startup. Not really a startup yet, since we have nothing to show for the time being. Or at least I could say we have our plan, and we are working on that now.

Today, we start building our first prototype.

Kind of bemused, to be honest, to think again how we start all of these.

It starts with an idea to explore the world outside our comfort zone. We start talking about big data, how data influence people and how big data will become our future economy.

Then we coming to the word “coding”. We kind of convinced, to explore the potential of big data, we should start somewhere. It was then, become our turning point, where we actually start seriously consider the importance of coding and computational programming.

It is like we are coming to terms, of believing that ourselves have to start to learn to code.

It was then, we are putting our thought about building our own startup.

On the 1st November, we start our very first coding class, by registering and exploring FreeCodeCamp.com—a website where anyone can learn to code free of charge, step by step.

Since then, every day we are sitting exactly on 7 in the morning at our university’s library foyer, learning to code. All of us, none having any fundamental in coding or programming, except for me, since I took a C++ class before during undergraduate.

Long story short, today, we built our first prototype. It consists several main parts for our website which later will be integrating with our mobile application. What will our website and mobile application actually be doing?

For that particular question, no we cannot reveal it yet since we are still working building and adjusting our business model canvas.

Nonetheless, my intention to share the story of what we are doing today is, you can achieve whatever you are dreams, as long as you are willing to put efforts and passion for that.

If you ask any of us, either we ever think that one day we are building our prototype by ourselves, without hiring any freelance developer, the answer was big no. Never crossed our mind that one day, we could do what we are doing today.

We are still learning, and we have certainly a way long journey ahead. We realise this trip is not easy, and never intended to be the easy one. We just try our best, and we did what we are deem to, for chasing our dream and for playing our part in this beautiful life.

We believe, in 2017, this challenge will be more exciting. We cannot wait for that.

Tuesday, December 20, 2016

26 Tahun

Usia tidak memberi perlambangan yang signifikan pada kebijaksanaan, hikmah dan akal budi. Biarpun angka yang mewakili carta usia sering dijadikan kompas penilikan dalam banyak perkara, hakikatnya usia hanyalah sekadar usia. Usia hanyalah angka-angka, dan angka adalah angka—tidak lebih dari itu.

Saya membaca kisah VM Vaughn, yang mula menerokai dunia pengaturcaraan komputer saat usianya sudah menjengah angka ke-56. Alasan beliau mudah, hidup ini adalah perlawanan dan perlawanan paling agung adalah dengan dirinya sendiri.

Maka, untuk mengambil keputusan mempelajari bahasa komputer saat usianya sudah memasuki fasa senja, adalah bukan hal yang mudah, untuk kebanyakan orang—termasuklah dirinya, tetapi beliau melawan dan beliau menang.

Pada beliau, angka pada usianya itu, hanyalah angka. Tiada lebih dan tiada kurang.

Saya juga membaca kisah John Washam, yang juga usianya sudah hampir mencecah separuh abad, memulakan projek pembelajaran kendiri bagi pengaturcaraan komputer secara intensif selama 8 bulan.

Mengapa beliau sanggup berbuat begitu, sedangkan beliau sendiri sudah bergaji lumayan, berkedudukan dan stabil?

Mengapa bersusah payah sebegitu rupa, sedangkan dia punya pilihan lain yang lebih nyaman dan menyeronokkan, tambahan pula usianya yang sudah makin senja?

Alasan yang hampir serupa Vaughn. Untuk menikmati erti hidup, demikianlah caranya.

Seolah-olahnya, usia pada mereka hanyalah mitos, yang menjadikan manusia sering dalam delusi. Lantaran momokan mitos begitu, manusia menjadi majnun hanya teringatkan pada angka usianya yang makin membesar nilainya.

Hairan, apabila manusia kegusaran pada angka usianya, tetapi langsung tidak betah pada isi usianya itu. Mereka gusar pada angka—yang sifatnya kulitan, superfisial—tetapi mereka tidak gusar pada makna usianya dan kewujudannya.

Lantas, yang terlahir adalah manusia yang lupakan usul jadinya, usul tujuan kewujudannya; untuk terus hidup dan mencari makna mengapa dia hidup.

Saya teringat pada kata-kata Theodore Roosevelt, yang dilorek pada memorialnya, di Washington DC; yang mana satu babak dalam filem Snowden, watak utamanya kelihatan merenung dalam pada kata-kata yang dilorek atas marmar putih tersebut.

Roosevelt bercakap perihal makna hidup ini apa, dan bagaimana sebenarnya manusia yang benar hidup bersikap pada menyingkapi makna tersebut. Kata beliau;

“A man’s usefulness depends upon his living up to his ideals insofar as he can. It is hard to fail, but it is worse never to have tried to succeed. All daring and courage, all iron endurance of misfortune-make for a finer, nobler type of manhood. Only those are fit to live who do not fear to die and none are fit to die who have shrunk from the joy of life and the duty of life.”

Kata kuncinya, menjadi seorang pemberani. Berani, mendepani angka usianya sendiri. Berani melawan mitos pada angka usianya dan berbuat sesuatu yang memberi makna pada dirinya, pada sekalian manusia yang lainnya.

Bercakap darihal ini, fikiran saya melayang pada kisah Bernie Sanders.

Pada hemat peribadi, beliau contoh terbaik pada kata-kata Roosevelt di atas, manusia berusia emas, hidup dengan prinsipnya, berjuang atas prinsipnya, memaknai prinsipnya dengan membawa kebaikan kepada sebahagian besar penduduk Amerika Syarikat.

Saya terserempak dengan dua kisah di atas, dan juga kisah Sanders, pada ketika angka usia saya genap 26 tahun, pada hari ini.

Dari sisi ini, saya terfikir, dikotomi tua dan muda harus direjam sejauhnya ke dalam kerak bumi—kalau dikotomi tersebut tidak membawa keadilan pada kebaikan dan hikmah seseorang.

Pada akhirnya, kita bermuhasabah bahawa, makna yang ditanggung oleh angka usia kita, adalah sebuah kebertanggungjawaban pada menyebarluaskan kebaikan atas muka bumi ini.

Seperti yang ditunjuki Muhammad ﷺ ratusan tahun dulunya. Seperti yang ditunjuki oleh para pejuang kebebasan dan kemerdekaan—para pemberani—yang mengorbankan kenikmatan hidup, demi prinsip dan idea yang diimaminya.

Mungkin, saban tahun Tuhan mengurniakan kita takat angka usia, tiada lain tiada bukan, adalah untuk memperingati akan diri kita yang sering alpa, bahawasanya, inilah makna hidup, dan inilah maknanya yang sebenar.

26 tahun, masih banyak yang tidak terbuat, yang terlupa, yang alpa. Hari ini, tiadalah yang lainnya selain untuk mengingatkan diri sendiri bahawa, di hadapan sana, sudah tertunggu sekian banyak amanah dan tanggungjawab, makna dan hakikat yang harus diterokai, diamati.

A photo posted by Ahmad Tajuddin (@segubang) on


Moga takat usia ini, Tuhan merestuinya.

Friday, December 16, 2016

Mengapa Mahasiswa Lelah Partisipasinya Dalam Wacana Kritikal?

Ketika saya meminta seorang rakan menonton video wawancara Jack Dorsey bersama Edward Snowden yang disiar langsung menerusi akaun Twitter @PardonSnowden, soalan pertama yang terpacul dari mulutnya adalah; “Siapa dia ni?”

Pada mulanya, saya kekagetan.

Kaget, kerana dunia hampir meletup akibat pendedahan Snowden, rakan saya masih belum kenal siapa lelaki itu, apa yang telah beliau lakukan, malah, yang lebih terkesan pada saya, apabila dia kelihatan langsung tidak apologetik dengan keadaan dirinya yang tidak tahu menahu akan hal ini.

Saya beranggapan, pada ketika dunia Internet yang rancaknya tidak terkata pada hari ini, orang ramai (pengguna) tentunya akan memahami betapa kritikal keperluan pada wacana-wacana yang melingkari dunia Internet.

Dan, dari rasa keperluan itu, akan terlahir pada diri masing-masing, pada kemahuan untuk turut serta (kehendak partisipasi) dalam wacana-wacana tersebut.

Anggapan saya begitu. Ternyata saya silap, apabila merujuk kepada kes rakan saya itu, atas sebab saya kenal dia adalah antara rakan saya yang begitu kritis dalam wacana kepolitikan domestik.

Maka, saya membina deduksi bahawa; jika dia kritis pada wacana kepolitikan domestik atas sebab dia merasa dirinya adalah sebahagian daripada sistem tersebut, samalah jua apabila dia menjadi sebahagian daripada dunia Internet (pengguna), justeru seharusnya dia juga kritis terhadap sistem dunia Internet.

Seyogia, deduksi saya silap. Dia tidak kritis terhadap dunia Internet, natijahnya, dia tidak mengambil tahu wacana yang melingkari dunia Internet, apatah lagi untuk partisipasi dalam mana-mana wacana tersebut.

Logiknya mudah, jika kita tidak merasa kepentingan akan sesuatu perkara tersebut, maka secara automatiknya kita tidak merasa keperluan untuk mengambil tahu akan hal tersebut.

Konsep yang sama, saya fikir, boleh menjawab persoalan mengapa wacana kritikal yang melingkari hal kenegaraan, kepolitikan, perekonomian dan sosial negeri raya kita ini, tidak mendapat perhatian anak muda, khususnya mahasiswa.

Mereka merasa, tiada keperluan untuk melibatkan diri, partisipasi dalam wacana tersebut. Mengapa itu terjadi?

Mudah, kerana mereka tidak merasa bahawasanya diri dan jiwa mereka adalah sebahagian kepada sistem-sistem (unaware that they are part of the system) tersebut.

Antara persoalan yang sering menjadi buah tanya kami semua yang terlibat dalam gerakan mahasiswa di kampus, adalah mengapa rakan-rakan kami yang lainnya kelihatan tidak merasa keperluan untuk terlibat dalam isu-isu politik dan ekonomi, sedangkan keperluan partisipasi mahasiswa dalam wacana-wacana tersebut sifatnya adalah sangat kritikal terhadap masa depan negara kita sendiri.

Mungkin saya perlu berterima kasih kepada rakan saya yang tidak kenal lelaki bernama Snowden itu, kerana kekagetan saya terhadap soalannya akan siapa Snowden-lah yang menyebabkan saya mendapat jawapan kepada soalan di atas.

Bahawa, pertamanya, wacana politik dan ekonomi tidak bersambut dalam kalangan mahasiswa kerana mereka tidak sedar akan diri mereka adalah sebahagian daripada sistem tersebut.

Bahkan, lagi haru apabila mereka menyamataraf wacana kepolitikan dan perekonomian tersebut dalam lingkup politik partisan, lantas yang diterjemahi adalah sikap meluat terhadap segala yang bersangkutan dengannya, tanpa disedari fungsi pemikiran kritis langsung dipinggiri.

Saya mahu mengulang istilah malapetaka—bahawa terpinggirnya fungsi pemikiran kritis dalam kalangan mahasiswa adalah malapetaka terhadap masa depan negeri raya kita ini.

Terlanjur dari deduksi tersebut, saya boleh menyatakan dengan aman di sini bahawa, langkah pertama jika kita benar mahu mencipta arus wacana yang baru—wacana yang disifatkan tidak tumpul, menggugat, keluar dari kelongsong wacana anti-UMNO yang sudah kelihatan makin lusuh—adalah dengan mendesak kesedaran bahawa kita adalah sebahagian daripada sistem yang kita hidup pada hari ini.

Saya menggunakan istilah “mendesak kesedaran”, bukan lagi menimbulkan kesedaran. Pada hemat saya, kesedaran tidak akan timbul dengan sendirinya. Kesedaran perlu didesak, barulah ianya akan terpercik.

Sebagaimana, mengambil contoh popular, tindakan Mohamed Bouazizi yang berjaya mendesak kesedaran masyarakat di Libya terpercik pada wacana salah guna kuasa di negara tersebut.

Saya tidak memaksudkan desakan dari sisi melawan secara keras atau persenjataan semata-mata, tetapi langkau dari maksud yang sempit begitu. Premis saya, kesedaran masyarakat untuk melibatkan diri dalam mana-mana wacana, harus didesak.

Sudah pasti akan timbul berbagai soalan lagi, lanjut dari lontaran tersebut.

Paling tidak, kekagetan saya terhadap rakan yang tidak tahu menahu perihal Snowden, membuahkan jawapan terhadap persoalan yang begitu panjang diperdebatkan dalam kalangan aktivis gerakan mahasiswa.

Mungkin, ada baiknya saya sertakan di sini jawapan Snowden kepada soalan terakhir Jack Dorsey, yang menanya perihal bagaimana untuk memastikan generasi anak muda hari ini tidak menormalkan isu government surveillance.

The normalization anything whether it’s a surveillance, injustice, inequality, is going to be a challenge because ultimately as individuals we have a smaller voice than these huge institutions. What we need to do is we need to first-off explain what it is that we believe and share it, debate it, figure out what matters and why, within our families, within our communities around. You know, to recognize that it’s not just about surveillance. Lot of people think about 2013, about NSA spying on us—yes, it’s true they are, but that’s not the issue. Surveillance is a global problem and it’s only the smallest part of the issue. What we’re talking about is democracy. What we’re talking about is civil empowerment. What we’re talking about is the relationship between the governing and the government of the ordinary citizens. There has been an increasing imbalance of power, where that idea of private citizens and public officials has been inverted—where instead of them knowing very little about us and us knowing very much about them—now they have classification, now they have state secrets that can hide behind their power. We know almost nothing about what public officials are doing.

Thursday, December 15, 2016

Malang Negeri Para Maling

Enjin carian Google untuk sekian kalinya menyiarkan tema-tema utama yang menjadi kata kunci carian pengguna Malaysia sepanjang 2016. Tujuh dari carian paling tinggi pengguna Malaysia, adalah berkisaran hal-hal hiburan.

Selebihnya, mereka mencari tentang BR1M. Tidak pelik, mungkin perut mereka sudah kelaparan seusai melayan Suri Hari Mr Pilot, maka mereka mula merayap mencari duit suapan kerajaan pula.

Malang, dalam pada negeri raya ini dipenuhi para maling, penyamun khazanah berbilion Ringgit, apparatchik yang siang dan malam tekun menjerut leher kita—manusia jelatanya masih tersesak dengan hal-hal tetek banget, seumpama negeri ini makmur sentosa ekonominya.

Penyamun tentunya tersenyum bahagia, saat melihat mangsa mereka leka hanyut, tidak mengerti apa-apa. Terus bodoh. Kekal lelan. Umpan mengena, penyamun berbisik sesama mereka.

Malang, saatnya di luar negeri raya ini dunia kekagetan darihal 1MDB, tertanya-tanya perihal diamnya khalayak di Malaysia, akurnya mereka pada propaganda murahan yang dijajai apparat dan para maling—kita merasa tiada apa-apa, tenang biasa, tiada gusar, tidak gundah gulana.

Pada kita semua, cukuplah esok paginya masih boleh merasa sesuap nasi kosong berulam garam, sesekali kasih kita pada penyamun di kota Putrajaya tiada pernah pudar. Wajib jua si bedebah maling itu dipertahankan, diangkat dipuja.

Malang, pada kita semua—si bedebah yang sebenar.

Untuk mengambil pendirian berkecuali dari hal-hal kepolitikan, atau hal partisan yang melelahkan, adalah suatu perkara. Tetapi untuk berterusan menjadi ignoramus dalam menunjuki sikap pada hal yang melibatkan moral, adalah suatu perkara yang lain sama sekali.

Yang dahulunya itu, adalah normal pada saat negeri raya ini makmur sejahtera. Yang terkemudian itu, adalah petunjuk bahawa kita semua sedang sakit yang amat, kita-lah bedebah yang sebenar.

Moga pemilik alam raya ini, masih sanggup memaafi dosa kita semua pada anak cucu kita kelak.

Wednesday, December 7, 2016

Resist.

Dalam tulisan ringkas sebelum ini, saya menulis perihal kelahiran UMNO 2.0 dan menyifatkannya sebagai malapetaka kepada negara kita. Kedengaran agak lancang, tetapi secara peribadi, saya anggap itu sudah cukup lembut.

Boleh saja, kita gelarkan ia sebagai kelahiran kaum bebal, atau gerombolan pandir—yang mengulang tesis masyarakat lambak oleh Ortega Gasset dalam tulisannya pada abad ke-20. Itu lebih lancang dan keras.

Tetapi, tidak cukup dengan gelar-gelar begitu yang bersifat abstrak (atau layaknya, halwa telinga), terapung tiada jawapan. Tidak terlahir dari gelar-gelar begitu, akan sebuah wacana yang boleh menjadi jurutelunjuk fikir dan cakap masyarakat seluruhnya.

Maka, difikirkan, bahawa tiba masanya yang menuntut adanya perubahan pada pendekatan ini.

Perubahan itu, pada maksud kelahiran arus kebangkitan gerakan yang bersifat dengan sifat yang baharu yakni baharu dari sudut kemampuan pencernaan wacana yang berwajah baru dan relevan, pembinaan idealisme yang baru dan relevan, kompas sikap dan moral yang baru dan relevan.

Baru dan relevan, pun begitu masih abstrak, bersifat konsep, masih lagi seputar tema-tema yang besar. Tiada penyudah yang kita boleh catat, tiada strategi dan pendekatan yang kita boleh kedepankan.

Cumanya, kita berada pada satu tahap kesedaran peri pentingnya berkehendak kepada matlamat tersebut. Kita insaf, malapetaka yang sedang melanda sekarang, mewajibkan kita bergerak untuk berbuat sesuatu. Persoalannya, sesuatu itu apa?

Tema paling besar dan cukup popular, adalah kita mahukan perubahan. Semua lapis masyarakat di Malaysia; mahukan perubahan. Acap kali, dan mutakhir, gesaan kepada perubahan adalah disamatarafkan kepada perubahan kerajaan UMNO/BN ke pakatan pembangkang.

Jadinya, faham perubahan kepada rata-rata masyarakat adalah, perubahan kerajaan dari UMNO/BN ke pakatan pembangkang. Jika itu terjadi suatu hari nanti—yakni tampuk perintah kerajaan bertukar tangan, maka kita akan merasa bahawa kita sudah mencapai perubahan yang diidamkan.

Ya, pada rata-rata masyarakat hari ini, perubahan adalah berubahnya tampuk perintah kerajaan. Tidak lebih tidak kurang dari itu. Walhasil faham ini hanya memakan diri kita sendiri. Mengapa?

Faham perubahan begini terhasil dari wacana yang sedang kita mamah saban waktu saban hari, pada hari ini. Wacana anti-UMNO, atau anti-kerajaan. Hari ini, kita akan merasa pelik jika masih wujud mana-mana anak muda yang tidak anti-UMNO. Terus kita akan tertanya-tanya, di mana silap sehingga anak muda tersebut masih tergamak merasa sayang pada UMNO.

Ringkasnya, wacana anti-UMNO sudah bersifat mainstream, popular, tiada lagi keintiman wacana tersebut dengan proses perkembangan idealisme dan gagasan-gagasan kemasyarakatan. Yang berbaki adalah, sentimen. Tukang pandu kepada wacana anti-UMNO, sebahagian besarnya adalah sentimen.

Maka, kita memandang perkara ini sebagai suatu yang tidak sihat, cacat, tercela apabila didekap pada batang tubuh seorang mahasiswa, terutamanya. Perlu ada beza, sosok mahasiswa dengan orang kampung yang tiada ijazah. Makanya, tulisan ini dituju kepada kelompok masyarakat yang digelar mahasiswa.

Saya terfikir akan suatu usaha perlu dilakukan, di peringkat mahasiswa, untuk membawa dan mencernakan idea ini. Kelesuan gerakan mahasiswa pada hari ini, bertitik tolak dari kelesuan wacana yang didokong oleh gerakan-gerakan yang wujud pada hari ini.

Jangan salah faham, bahawa ini juga adalah teori. Maka terbuka kepada mana-mana sisi yang tidak bersetuju dengan teori ini. Wacana—diterangkan contoh dalam perenggan awal—yang bersifat ulangan, tiada pembaharuan, tiada jati diri, menyebabkan wacana tersebut makin lusuh, makin tumpul dan tidak mengancam.

Wacana-wacana, baik dari politiknya, atau ekonominya, atau sosialnya, yang sedia ada pada hari ini, berkisaran depan ke belakang, belakang ke depan, pada pola yang lebih kurang sama. Setiap apa yang dikatakan sebagai “aksi” pun masih sama begitu.

Tiada suatu yang menggugat. Tumpul. Wacananya tidak lagi menjadi igauan ngeri kepada pemerintah, atau sesiapa yang akan mengambil alih tampuk pemerintahan kelak. Ataupun, lagi mengharukan, apabila wacana tersebut tidak mampu menawarkan harapan, mimpi-mimpi.

Wacana yang tersedia ada, sudah menjadi trend, atau imej. Menyedihkan, apabila imej tersebut hanya terlekat pada kulit, bukan isinya.

Seyogia wacana itu memencak idealisme kendiri, menjadikan setiap insan yang mendukung wacana tersebut tidak boleh duduk diam, resah senantiasa, tetapi kini wacana tersebut cuma tinggal laungan kosong, tiada lagi rasa getaran yang menolak-nolak dirinya untuk berbuat sesuatu.

Justeru, saya berhajat untuk memulakan sesuatu dengan mengumpul barang satu dua cebisan catatan dari mana-mana diskusi seputar hal ini, sebagai sebuah siri catatan idea, yang mungkin bersifat longgokan, yang kemudiannya boleh disusun, dianalisis, dibaca semula, ditambah mana yang kurang, dibuang mana yang tiada penting.

Bahawa, pada akhirnya, boleh dijilid sebagai sebuah kertas kerja dengan izin Tuhan sebagai rujukan untuk masa-masa akan datang. Projek ini, adalah projek melawan—bukan melawan UMNO, tetapi melawan arus wacana yang statik, lusuh dan tumpul.

Saya mahu namakan ia sebagai PROJEK RESIST.

Wednesday, November 30, 2016

Rohingya di Tanah Air Pertiwi

Malapetaka seakan saling melengkapi lewat minggu ini. Masyarakat lambak, kumpulan manusia yang digelar oleh José Ortega y Gasset akibat sikap melulu dan kejahilan mereka, bahkan tidak mampu untuk mengenal kejahilan mereka, semakin membiak dalam kalangan masyarakat.

Dulunya, ramai antara mereka bercop UMNO pada dahi masing-masing, hari ini—cop tersebut beralih pada rata-rata ahli PAS yang semberono menyokong tindakan zalim kerajaan PAS negeri Kelantan terhadap orang-orang asal di Gua Musang.

Semberono, pertama kerana jahil. Gelar lainnya, ignorance. Sudahlah jahil, tambah jelek lagi seperti istilah orang Melayu, bodoh tak menurut, pintar tak mengajar.

Ignoramus begini, yang terlihat pada mereka hanyalah bendera berlambangkan bulan, tiada yang lainnya lagi. Segala yang bercanggah dengan hal tersebut, adalah salah, fitnah, kerja-kerja menjatuhkan kerajaan Islam.

Kepandiran mereka, menutup conscience pada bahawa di bumi pertiwi ini sudah terbentangnya Rohingya tersendiri. Akal mereka tidak pun sampai, lagi-lagi mahu berbicara pasal conscientious.

Mungkin ini juga pengajaran pada rakan-rakan yang berhajat pada memulakan projek pendidikan politik (atau kata lain, membina pergerakan mahasiswa akan datang), jangan sesekali menjustifikasikan “indoktrinasi” sebagai “proses pendidikan atau tarbiah”.

Indoktrinasi is indoctrination, dan hasil kepada proses indoktrinasi adalah membiaknya gerombolan conceited ignoramus.

Sedih menyaksikan rakan-rakan yang setia dengan PAS yang lahir dari rahim perkaderan kampus, terzahir terang benderang lagak ignorance mereka pada isu orang asal dan tanah adat.

Dan, ini sebenarnya malapetaka.

Malapetaka kepada Malaysia, kerana hari ini PAS akhirnya melahirkan gerombolan UMNO 2.0 pula.

Dengan kelompok kader-kader PAS yang sebegini—yang mereka semua antisipasi kita adalah pewaris beban kepimpinan parti tersebut pada masa mendatang, kita boleh harapkan apa dari mereka?

Bahawa, tiada lain iktibar dari kejadian malang yang telah menimpa PAS pada hari ini, melainkan peringatan bahawa sudah-sudahlah kita mengulangi kesilapan manhaj “pendidikan politik” dahulu kala.

Thursday, November 24, 2016

Kepedulian Politik Murahan

Khairy Jamaluddin mempertahankan isu kelewatan pemboikotan pasukan Malaysia terhadap AFF Suzuki Cup 2016, bertitik asal dari berita pembantaian etnik Rohingya yang baru tersebar luas kononnya pada minggu lepas.

Kata dia, laporan pembunuhan besar-besaran yang terbaru hanya keluar minggu lepas. Check the news, katanya Khairy.

Politikus begini, adalah politikus murahan. Hal yang sama juga terampil pada mana-mana organisasi yang "bising-bising" pasal Rohingya sehari dua ini.

Rohingya bukan berlaku semalam, atau minggu lepas.

Pembunuhan besar-besaran yang kononnya, baru tersebar minggu lepas seperti didakwa Khairy, sudah diberi liputan berbulan lamanya oleh Human Rights Watch (HRW). Malah jika diambil kira dari keseluruhan laporan HRW, sudah bersiri laporan mengenai Rohingya dikeluarkan.

Ketika kita setahun 2015 mengepalai ASEAN, pernah diusulkan dalam mana-mana sidang parlimen untuk membincangkan hal Rohingya? Mana Khairy waktu itu?

Cuma tinggal sekarang, menteri kita buta, kepimpinan kita sifar conscience. Tidaklah hairan, baru minggu ini dia tersedar akan krisis tersebut.

HRW merayu pada ASEAN Summit 2016 supaya tidak meminggirkan Rohingya dari meja perbincangan mereka. Tetapi, waktu itu, sekitar Februari 2016, di mana hilangnya kemanusiaan Malaysia?

Atau, ketika kita menghambat keluar bot pelarian Rohingya dari berlabuh di pinggiran pantai Malaysia, mengapa semua politikus murahan ini membisu?

Ketika itu, kalau kita diizinkan untuk bertanya, tidak terlintas pada benak Khairy akan nama Myanmar selaku tuan rumah AFF Suzuki Cup 2016?

Politik murahan mewajahkan kepedulian murahan.

Barry Malone (Al Jazeera English) pernah merungut hal yang sama ketika video 'The Boy in the Ambulance' meletup dimainkan seluruh media. Hal yang sama—selective humanity. Kepedulian yang boleh menjual nama mereka, yang boleh melariskan akhbar mereka.

Kepedulian kita, tertanggung pada sensasinya sesuatu krisis. Kemanusiaan kita, wujud pada ketika kepolitikan menuntut perhatian dan populariti.

Teruskanlah bermain tarik tali pada hal-hal kemanusiaan. Teruskanlah kepedulian yang penuh kepura-puraan. Teruskanlah. Cuma seminggu dua ini sahaja nama Rohingya disebut-sebut oleh media Malaysia, selepas itu usah kita harapkan ia timbul lagi.

Tiada bola sepak tanpa kemanusiaan, kata Khairy. Maaf, sebetulnya: tiada kemanusiaan pada kepedulian murahan begini.

Wednesday, November 9, 2016

Menulis Tentang (Falasi) Trump

9 November (terbalik kepada 11 September) menjadi mimpi ngeri buat sebahagian besar penduduk Amerika Syarikat. Ya, sebahagian besar — Muslim, LGBTQ, kulit hitam Amerika, imigran dan banyak lagi kumpulan minoriti.

Tambah mengerikan apabila kedua-dua Dewan dalam Kongres Amerika Syarikat juga dikuasai sepenuhnya oleh Republikan. Apakah kesan langsung dari monopoli kuasa berbuat keputusan begini, bermula dari White House, sehingga ke Senat dan juga Perwakilan?

Natijah yang kita terbayang pada waktu ini adalah, terkuburnya tatakelola semak dan imbang.

Cuma dalam banyak perkara seputar hampir dua tahun kempen presiden di Amerika Syarikat, hal yang meresahkan (dan sedikit kelakar) adalah bagaimana Trump begitu terbuai dengan falasinya, bahawa kebangkitan dia adalah “a movement against establishment”.

Sehinggakan dalam ucapan kemenangannya, Trump masih dengan falasinya.

“As I’ve said from the beginning, ours was not a campaign, but rather an incredible and great movement, It’s a movement comprised of Americans from all races, religions, backgrounds and beliefs who want and expect our government to serve the people, and serve the people it will.”

Establishment yang dirujuk Trump adalah gerombolan politikus dan manusia berkepentingan yang melata di Washington DC. Pada hakikatnya, dia sendiri juga, lahir dan membesar dari gerombolan tersebut.

Seumpama kuali mengata belanga hitam, demikianlah Trump terhadap Clinton.

Namun, Trump tidak merasa malu menjaja falasinya pada sekumpulan manusia yang tidak berpendidikan (pada hal yang merujuk manusia yang tidak berakal rasional), bahkan menjadikan ianya suatu tema penting sepanjangan kempennya.

Perlawanan yang dijaja Trump, unik katanya, adalah falasi yang tidak berkesudahan.

Perlawanan menentang Clinton, digagahi dengan sentimen dan kebencian.

Perlawanan menentang establishment, yang bunyinya begitu progresif, dihiasi dengan kejahilan.

Perlawanan menentang establishment oleh Trump, hanya bertujuan untuk melahirkan semula establishment yang kelihatan seakan terkubur, paling tidak lapan tahun yang lepas. Iaitu sebuah establishment masyarakat yang mesra keganasan, kebencian dan keterasingan.

Dan, yang terlahir dari perlawanan tersebut, hanyalah segerombolan ignoramus jua. Kita sudah boleh menyaksikan bibit tersebut mula menjalar pada hari ini. Tidak terbayang dek akal kita, selepas empat tahun Trump di kerusi pejabat bujurnya.

Trump mengumpan para ignoramus dengan sosok anti-politically correct, pada menanggapi isu imigran Mexico, kelas pekerja, keganasan ISIS dan hal-hal bersangkut feminisme. Dan, dia berjaya teruk.

Suatu hal yang kita tidak berdaya untuk dangkal lagi, saban ketemu dengan falasi yang dijaja sosok begini. Sudah tentunya, gerombolan ignoramus akan bertempik melolong bersetuju dengan api sentimen begitu.

Seperti halnya yang terjadi di tanah air kita sendiri, gerombolan manusia baju merah yang diketuai oleh Jamal Yunus, apa yang boleh kita harapkan dari gerombolan manusia begitu?

Makanya, dalam rendaman rasa ngeri pada hari ini, kita terbayangkan sosok seumpama Bernie, atau Obama. Sosok yang memberi mimpi kepada kita. Sosok yang tidak tunduk pada desakan pesimis. Sosok yang cerdas, yang cuba mencerdaskan penyokong mereka juga.

Clinton tiada kualiti tersebut.

Meskipun jauh di sudut hati, saya meyakini Clinton tidaklah sejahat yang digambar oleh media, tetapi tetap juga harus kita akui, bahawa Clinton adalah calon yang lemah, yang tidak berupaya untuk memadam falasi Trump.

Pada akhirnya, kita semua tahu kesudahan yang bagaimana pada hari ini. Moga empat tahun yang mendatang, Tuhan cernakan kepada kita hikmah-hikmah yang kita tidak ketahuan lagi, dalam serba kelemasan yang kita hadapi hari ini.

Thursday, October 27, 2016

7 Tahun Time To Change

Jika blog ini seorang manusia, maka Time To Change sudah memasuki usia Darjah 1 sekolah rendah. Demikianlah, sudah tujuh tahun Time To Change berkubang dalam dunia Internet, menempel diri dalam kesesakan lalu lintas dunia dalam talian.

Mungkin dalam banyak masa, blog ini tersesat dalam dunia maklumat, ketika mencari identiti dari kepelbagaian yang wujud.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya acap kali terlupa untuk menyiapkan tulisan penghargaan sempena ulang tahun Time To Change. Kalau diikutkan tarikh sebenar, 3 Ogos 2009 adalah tarikh kelahiran blog ini secara tepatnya.

Kiranya sekarang, sudah hampir tiga bulan terlewat. Tapi tak mengapalah, hal yang begitu tidaklah kritikal sangat untuk diperkatakan di sini.

Saya cuba untuk merungkai semula, membaca satu-persatu tulisan setahun yang lepas ketika mahu menulis catatan bersempena tujuh tahun Time To Change. Sebenarnya, saya perasan, kecenderungan menulis seputar isu-isu terkait dengan persoalan politik tidak pernah nampak pudar.

Mungkin ini niche yang perlu saya terus perbaiki, manfaatkan passion yang wujud dalam diri untuk menulis dengan lebih baik pada masa-masa akan datang. Sudah pastilah, saya tak pernah terlintas untuk berhenti menulis di sini, kalaupun di lain tempat saya tidak rancak berkongsi tulisan.

Pada saya secara peribadi (dan saya tahu ramai tidak akan bersetuju), platform untuk menulis dalam talian yang paling baik adalah dunia blog, bukannya lain-lain media sosial seumpama Facebook.

Dunia teknologi berevolusi.

Pantas, seolah-olahnya kita tidak terkejar dek perkembangan teknologi saban hari. Sebagai contoh, dalam dunia penulisan, Medium muncul sebagai platform blog yang popular dalam masa yang singkat dengan kemampuan pangkalan data yang cukup besar.

Tetapi, penulisan tetap dengan dunianya tersendiri. Jika dulu, penulisan hanya menerusi wadah buku, atau majalah, atau akhbar — kini, tidak lagi. Penulisan mengambil tempat secara aktif dalam dunia digital, lantas lahirnya sekalian platform blog sebagai alternatif kepada dunia fizikal.

Saya antara salah seorang yang percaya bahawa, blog masih lagi relevan sehingga ke hari ini. Bukti yang paling jelas adalah kebangkitan Medium sebagai platform penerbitan digital dalam skala yang menakjubkan.

Dan, Medium wujud dalam persekitaran Facebook — sebagai contoh mudah — begitu berkuasa dalam arena dunia digital. Persoalannya, mengapa hal demikian boleh berlaku?

Saya berteori, untuk menyokong apa yang saya rasakan selama ini, adalah kepuasan menulis di Facebook tidak sesekali boleh mencapai tahap kepuasan mencatat dan menulis di sebuah platform media digital yang dinamakan sebagai “blog”.

Oleh yang demikian, maka tidaklah pelik bilamana Medium menerima limpahan kehadiran penulis ternama dan jurnalis berkaliber, segala macam rumah penerbitan, blog dan majalah digital yang berwibawa.

Kumpulan manusia ini, memerlukan sebuah platform penulisan yang “sebegitu rupa”, dan Medium memenuhi kehendak mereka. Ternyata eksperimen dan teori Evan Williams terbukti berjaya.

Saya memilih untuk setia dengan platform Blogger, yang dimiliki sepenuhnya oleh Google (Alphabet Inc.), walaupun kadangkalanya, saya mengeksport tulisan terpilih dalam blog ini ke akaun Medium saya.

Kerap juga saya ditanya soalan, mengapa Blogger. Saya tiada jawapan. Paling logik, ianya percuma, dan mudah — uncomplicated, straightforward, plain and effective.

Efektif dari erti kata, mesra enjin carian Google itu sendiri. Ini juga telahan saya, memandangkan kesemua blog utama produk Google masih menggunakan Blogger sebagai platform media penerbitan mereka.

Saban menulis artikel bersempena ulang tahun Time To Change (walaupun banyak kali juga terlupa tahun-tahun sebelum ini), maka topik ini menjadi pilihan; mengapa Blogger. Biarkanlah, kerana bukannya kerap pun blog kecil ini menyentuh hal-hal begini.

Dan begitulah seterusnya, saya fikir, untuk tahun-tahun mendatang, saya berharap rasa ghairah untuk terus menulis di sini tidak akan padam buat selama-lamanya. Dan, moga para pembaca yang datang memenuhi masa lapang menyerabuti kepala dengan luahan dan catatan saya di sini, beroleh manfaat seadanya.

Kita bertemu lagi pada tahun 2017, untuk refleksi tahun kedelapan Time To Change. In shāʾAllāh.

Tuesday, October 25, 2016

Jenayah Akal dan Puing-Puing Yang Bertebaran

Kerap kali dalam pengisian tamrin (program tarbiah dan perkaderan) PAS, hujah yang berbunyi begini diguna dan diulang dari generasi ke satu generasi yang lainnya; “Selagi PAS berpegang dengan al-Quran dan Hadis, tiada alasan untuk meninggalkan perjuangan PAS.”

Atau, “Selagi PAS tidak melakukan hal yang melanggar syariat, atau mungkar, maka tiada sebab untuk berpaling tadah dari wadah politik PAS.”

Semalam, kami bertemu berbual — rangkum dalam pertemuan adalah teman-teman bekas pimpinan Islam Penyelamat Ummah (IPU), gelaran buat jemaah PAS dalam kampus — tentang UKM, perihal pilihanraya kampus yang baru berlalu dan bermacam lagi.

Timbul topik dalam cakap-cakap kami, tentang PAS.

Semua maklum, IPU dan rata-rata Jemaah Islam keseluruhan kampus di Malaysia, berada dalam penyeliaan Jabatan Perkaderan Mahasiswa (JPM), sebuah jabatan di bawah Dewan Pemuda PAS Pusat yang bertujuan mengkoordinasi penerusan kelahiran kader-kader PAS.

Justeru, dulunya kami semua adalah kelompok kader-kader PAS, yang cuma bezanya sekarang, kami sudah tidak lagi bersama dengan PAS.

Ada yang mengambil pendirian untuk menyertai parti politik yang berlainan, dan tidak kurang juga yang memilih untuk keluar langsung dari spektrum politik.

Antara kekuatan (dan juga punca kelemahan) kader-kader PAS adalah ikatan baiah yang termeterai, yang acap kalinya dimeterai tanpa adanya kefahaman yang syumul, yang rata-rata diikat pada sentimen dan doktrin.

Pada kelemahan yang begitu jua, tidak sedikit kader-kader PAS mengambil keputusan untuk tidak lagi bersama dengan jemaah tersebut seusai zaman kampus mereka.

Afif, salah seorang teman saya membawa sebuah premis logik, pada menjawab hujah mengapa perlu bersama dengan jemaah PAS selagi mana parti itu tidak curang dengan Quran dan Hadis.

Katanya, menghalang ahli berfikir juga, adalah suatu hal yang mungkar dan jenayah.

Tidakkah PAS mengambil kira akan hal menyekat ahli berfikir — membuka kebebasan wacana kepada ahli, kebebasan ahli mencabar status quo parti itu sendiri, adalah suatu bentuk jenayah akal yang sifatnya juga mungkar?

Akibatnya, kita menyaksikan gejala pandir (simpleton) telah menjadi wabak dalam kalangan kader-kader PAS.

Sayang sekali, sebuah sistem perkaderan yang lelah dibina beberapa dekad lalu, punah sepenuhnya (dalam pengertian intrinsik) akibat ketakutan yang disemai dalam doktrin PAS pada mencabar segi pemikiran yang berbeza dari manhaj jemaah itu sendiri.

Mungkin pada satu segi, kata orang, yang berlalu biarkan ia pergi. Namun, itulah manusia — tempat jatuh lagi dikenang, inikan pula tempat bermain.

Monday, October 24, 2016

Caesar Non Supra Grammaticos

Bergetar suara YB Husni Hanadzlah siang tadi di Parlimen mempersoalkan sebab musabab keperluan diwujudkan 1MDB ketika sesi perbahasan Belanjawan 2017. Beliau mempersoalkan, mengapa Malaysia begitu kaku menangani kebejatan itu.

Seolah-olahnya Perdana Menteri langsung tiada lagi rasa malu, kata orang, setidaknya berpada-padalah dalam berbohong kerana kelak jatuhnya tidak terkira sakit. Seolah-olahnya, undang-undang hanyalah terkelepet di bawah telapak kakinya sahaja.

Sigismund, sang Maharaja Roman ditegur Biskop Placentinus apabila dia mempertahankan kesalahan tatabahasanya dalam satu pertemuan Council of Konstanz, merujuk kepada konteks maharaja juga tertakluk kepada undang-undang dan peraturan tatabahasa.

Di Malaysia, hari ini undang-undang dijadikan kain pengelap kotoran telapak kaki oleh sesetengah politikus yang berkuasa. Badan legislatif tidak perlu dibicarakan lagi, habis dibungkam menjadi kuda tunggangan — usah dibecakkan soal maruah lagi di sini.

Jika Sigismund mendengar kisah takjub Najib Razak mengeksploitasi setiap lapis sistem yang wujud dalam Malaysia hari ini, tentu sang maharaja itu akan terpegun kaku, tidak percaya. Saat dirinya dulu, mempertahankan kesalahan tatabahasa pun menjadi bualan sejarah generasi demi generasi selepasnya.

Tentu sekali, kita boleh bermudah dengan YB Husni, mengajukan semula kebisuan beliau sewaktu memegang jawatan Menteri Kewangan dulunya. Kita boleh mengambil sikap begitu terhadapnya, atau kita boleh memilih untuk bersikap yang berbeza.

Secara peribadi, kita dapat merasa akan tersepitnya beliau. Pertimbangan dalam kehidupan yang serba lemah ini, bukanlah semudah kata-kata yang dilafazkan, atau selaju perkataan-perkataan yang tercatat di sini. Tidak semudah itu.

Kita mendoakan, agar lebih ramai lagi mereka yang insaf akan kebejatan 1MDB, bangkit seberani Placentinus menegur Maharaja Sigismund.

Betapa kesakitan yang kita tanggung pada hari ini, tidaklah seberapa bilangannya berbanding kerosakan dan kesengsaraan masa depan generasi kita yang seterusnya. Kita berhutang dengan mereka, untuk berdiri menyatakan bahawa segala kebejatan hari ini, adalah mungkar dan wajib ditentang.

Sunday, October 23, 2016

Dalam Sudah Keajukan, Dangkal Sudah Keseberangan

Belanjawan (ganti kepada istilah bajet yang dialih secara lolos dari asalan budget) 2017, seperti siri-siri sebelumnya, hanyalah kosmetik politik — yang realitinya, angka dan istilah-istilah makro perekonomian tersebut tidak bermakna apa-apa dalam kamus kehidupan seharian rakyat terbanyak.

Rakan saya mengumpamakan majlis pembacaan teks Belanjawan itu tidak ubah Ketua Perompak sedang membacakan perancangan rompakan mereka selama setahun, di hadapan gerombolan perompak yang sedang diketuainya.

Sudah semestinya, pihak yang paling malang, lantas menjadi mangsa adalah kita semua. Kita menyaksikan kecelakaan akibat gerombolan perompak menjarah harta kekayaan negara demi perut rodong mereka sendiri.

Bermula dari masa depan generasi anak-anak Malaysia yang dirompak rakus oleh peruntukan pendidikan dalam belanjawan dipotong saban tahun.

Bermula dari hal-hal terkait kesihatan dan kesejahteraan kumpulan masyarakat terbanyak termasuklah kualiti perubatan, perkhidmatan hospital yang mencukupi, bilangan doktor bertauliah yang menyusut saban tahun, diendahkan gerombolan perompak begitu sahaja.

Bermula dari persoalan kos sara hidup seharian, kemampuan memiliki rumah berharga mampu milik, peluang pekerjaan, kualiti alam sekitar dan pelbagai lagi, angka-angka belanjawan tersebut tidak mampu memberi jawapan kepada hal-hal yang realiti.

Sudah semestinya, kita lebih dari layak untuk mempersoalkan mengapa peruntukan bagi sebuah jabatan yang berpusat di Perdana Putra mencecah sehingga 15 bilion Ringgit, dan pada masa yang sama peruntukan penyelidikan dan pembangunan pendidikan tinggi dipotong sebegitu rupa kejamnya?

Semestinya juga, kita harus mempersoalkan, mengapa dari keseluruhan 260.8 bilion Ringgit peruntukan Belanjawan 2017, hanya 46 bilion Ringgit diperuntukkan bagi Perbelanjaan Pembangunan, dan Perbelanjaan Mengurus mencecah sehingga 214.8 bilion Ringgit?

Bermula pembentangan belanjawan pertama pasca Merdeka pada tahun 1959, ternyata Ketua Perompak zaman kita ini berjaya mencatat rekod belanjawan pertama yang menyediakan Perbelanjaan Pembangunan di bawah paras 20% dari jumlah keseluruhan belanjawan.

Rakyat yang berfikir, akan bertanya, apakah gerangan perompak sampai begitu rakus membolot perbendaharaan negara dari modus yang tampak jujur dan beretika.

Tidak. Tidak sesekali. Jauhar juga mengenal manikam, akan siapa yang berulit di kerusi Parlimen itu.

Cumanya, kita tidak mengenal manikam yang cantik berkilat tetapi siapa perompak yang sebenar. Dalam sudah keajukan, dangkal sudah keseberangan — jauh dari sana kita sudah dapat menghidu niat jahat gerombolan ini.

Cumanya, kita bimbang, rakyat mula terkeliru bilamana mereka yang berlilit serban di kepala, juga berulit di kelangkang Ketua Perompak. Mungkin inilah janji Tuhan, pada memberitahu bahawa dunia sudah menghampiri umur terakhirnya.

Friday, September 30, 2016

Surat Kepada Tuhan

Ujian yang didatangi Tuhan, dalam pelbagai ragam dan bentuk. Aku sedar itu semua, tetapi aku lelah. Lelah dengan kelemahan diri aku sendiri, lelah dengan kebuntuan akal, lelah dengan kemalasan dan bebanan yang menggila.

Aku lelah dengan ujian. Sampai satu ketika, aku bertanya, Tuhan, kapan mahu dihentikan segala ini?

Aku tak tahu nak mengadu di mana lagi. Aku fikir, menulis di sini boleh meringankan sesak yang menggila dalam dada. Dunia ini kadang kala terlalu kejam, untuk diri manusia yang serba lemah, serba kurang begini.

Kadang-kala aku terfikir, betapa bahagianya manusia yang hidup dalam dunia mereka sendiri, yang tidak perlu hidup dalam dunia orang lain. Tuhan, kenapa sukar sangat—segala macam ini?

Apa jawapan yang Kau nak aku cari?

Tuhan, aku nak menangis. Aku nak jumpa Kau. Aku tahu yang aku ini banyak dosa, dan aku tak layak pun untuk semua ini. Tapi, aku tiada pilihan lain Tuhan... Kau ringankanlah...

Saturday, September 17, 2016

Sosok Haron Din

Lewat pertengahan 2004, abah pulang dari pasar tani dengan senaskhah Harakah. Muka hadapannya, figura Haron Din menghiasi keseluruhan halaman dengan judul utamanya berbunyi ‘PAS yakin dengan cita-cita Negara Islam’.

Keseluruhan berita, kurang lebih, menyampaikan peri cita-cita penubuhan Negara Islam, sebagaimana yang terkandung dalam Manifesto PAS. Haron Din dipetik berita tersebut, menyatakan optimisnya bahawa sistem syura akan menggantikan sistem tinggalan penjajah pada masa akan datang.

Entah mengapa, fikiran saya melayang pada memori naskhah Harakah tersebut saat menerima berita pemergian Haron Din petang semalam. Mungkin itu antara puing yang bertebaran, yang mencuit memori saya mengenang sosok itu pada ketika menerima berita sedih tersebut.

Dia cerita pasal apa?” abah bertanya, dalam lenggok kebiasaannya apabila dia melihat saya tenggelam dalam helaian demi helaian lidah rasmi PAS itu. Saya masih ingat abah bertanya soalan yang sama, ketika saya membaca berita di atas.

Mungkin juga, kerana perbualan itu yang menyebabkan hingga ke hari ini saya masih terkenang saat tersebut saban kali nama Haron Din terlintas di mana-mana sekalipun.

Sehinggalah seusai solat Jumaat semalam, khatib Masjid Pasir Mina menyampaikan berita sedih ini kepada semua jemaah yang datang.

Tidak sama sekali menjadi peminat tegar arwah, tetapi hampir keseluruhan hayat sehingga ke hari ini begitu rangkum dengan sosok bernama Haron Din, saya harus mengaku sedikit sebanyak pemergian beliau menghambur sedih yang tidak sedikit jua.

Kalaupun pendirian dan pandangan arwah Haron Din tidak banyak mempengaruhi perspektif politik saya, sosok itu tetap mempunyai kredit terutama dalam perjalanan saya memahami perjuangan PAS dan bersama gerakan tersebut dalam beberapa tempoh terdahulu.

Kalaupun banyak segi saya tidak bersetuju dengan arwah, baik ucapannya atau ijtihad politiknya, sama sekali sumbangan dan jasa besar arwah, dan keperibadiannya tidak wajar dibisukan, tidak ditulis dan dirai.

Moga Tuhan tempatkan roh arwah dalam kalangan mereka yang dikasihi-Nya.

Friday, September 9, 2016

Darihal Khalayak Bertembok Delusi

Sukar untuk tidak bersetuju dengan komentar ringkas ZF Zamir, lewat isu filem PEKAK yang diperkatakan khalayak sebagai tidak bermoral, merancu akhlak remaja, dan berbagai kata nista lainnya lagi; bahawa mereka yang beremosi dengan filem tersebut, tidak berani untuk mendepani realiti sebenar yang dihadapi masyarakat dalam ceruk yang tiada nilai komersial seumpama kehidupan manusia di flat kos rendah, anak kelas corot dan seumpamanya.

Dalam gelanggang politik, kita sudah penat dengan politikus yang saban waktunya dalam delusi. Mereka bercakap yang indah-indah, melaburkan air liur bercerita bahawa ekonomi negara sedang merimbun, pendidikan kita maha sempurna, masyarakat semuanya makmur sentosa.

Dari satu parti politik, ke satu parti politik yang lainnya; delusi mereka kurang lebih tiada berbeza. Hal demikian jua pada politikus yang berpayung dibawahnya, delusi yang tiada berkesudahan.

Kita tersedia maklum akan perkara tersebut. Cuma malangnya, kita tidak sedar bahawa dalam pada begitu, khalayak yang bukan politikus juga, hidup bertembok delusi. Delusi khalayaklah yang memperanakkan keadaan di atas.

Saya tidak menonton filem itu lagi, tetapi dari pembacaan beberapa ulasan dan juga penerangan filem PEKAK, saya boleh mencongak perihal mengapa ada penonton panas punggung, lantas memarahi sang penerbit sebagai tidak bertanggungjawab.

Sindrom delusi pada realiti, menjadikan kita membenci sesiapa yang datang kepada kita, memberitahu kebenaran realiti yang sedang kita lalui sekarang.

Sebagaimana khalayak Quraisy membenci Muhammad SAW kerana memberitahu realiti berhala yang mereka sembah adalah batu yang membisu kejap, demikian jua manusia yang sedang dalam delusi terhadap permasalahan sosial yang kita berdepan pada hari ini.

Kita bercakap sehari dua yang lepas tentang anak remaja sekolah menengah dibelasah rakan sebayanya, tetapi sedarkah bahawa cakap-cakap kita itu tidak lebih pada menutup rasa lemah sendiri, dan mencari salah orang lain dan kemudiannya, menjadikan anak-anak itu sendiri faktor terutama dalam segala masalah yang dihidangkan pada hari ini.

Kita dalam delusi, sehinggakan kita terlebih gemar menutup rasa bersalah dan tidak bertanggungjawabnya kita terhadap sakit yang sedang kritikal ini, tersenyum kelat di depan seolah-olahnya tiada yang buruk sedang berlaku.

Penyakit sosial yang membarah dalam masyarakat hari ini, tidak bermula dengan anak-anak itu tetapi diri kita selaku orang-orang tua yang sudah cukup akal, yang membentuk acuan untuk mereka membesar dan berfikir, yang mencipta dasar dan sistem, yang merencana corak hidup mereka sehinggalah ke usia dewasa mereka.

Apabila datangnya perkhabaran mengenai realiti sebenar, yang rupanya tidak seindah diperkatakan ramai, kita melenting, beremosi, seakan tidak percaya bahawa itulah hal yang sedang terjadi dalam masyarakat pada hari ini.

Ambil contoh mudah — penyakit dadah, selain dari perangkaan yang dikeluarkan saban tahun menunjuk angka yang makin meningkat, selain dari mengeluh panjang, apa lagi yang kita berbuat dan fikirkan?

Kita liat benar untuk bangun, berfikir dan mempersoalkan sistem yang saban waktu kita hidup — pendidikan, sosio-ekonomi, keselamatan, nilai dan kepercayaan, teknologi, hak dan keistimewaan, politik, keadilan dan kesaksamaan, kebebasan — dan terlebih rela menjadi hamba pada delusi yang dihidangkan oleh kebejatan individualistik.

Natijahnya, kita cepat panas punggung apabila diberitahu bahawa realiti busuk yang sedang kita berdepan makin bertimbun, menunggu masa sahaja untuk runtuh menimpa kita semua. Kita masih senang dengan tabiat berkecuali, mencipta jarak, membina tembok dengan realiti sebenar.

Lantas, dengan berterusan dalam delusi begini, apa yang boleh kita harapkan dari khalayak?

Dari layar filem itu, sewajarnya kita insaf dengan realiti yang sedang kita semua berdepan, bukannya memejam mata dan terus mencari salah orang lain. Sudah-sudahlah hidup dalam delusi, jadilah manusia dewasa seketika.

Wednesday, September 7, 2016

Bagaimana Acuan, Begitulah Kuihnya

Sekali lagi masyarakat bercakap tentang kes buli yang menjadi riuh dalam Internet setelah tersebarnya video pelajar malang dibelasah rakan sebayanya. Sarapan pagi tadi, beberapa kelompok orang-orang dewasa bercerita tentang kisah malang itu.

Hangat, bermacam reaksi.

Tapi, sekadar begitulah masyarakat kita mampu. Tidak lebih dan tidak kurang. Apa yang saya perhatikan, nada perbualan seputar betapa teruknya generasi sekarang, tidak seperti zaman ketika mereka dulunya berusia begitu.

“Dulu, kita perdajal juga kawan-kawan di sekolah... tapi tak sampailah zalim sebegitu rupa,” ujar salah seorang manusia dewasa dalam perkumpulan staf universiti awam yang sedang bersarapan di sebuah restoran.

Mereka yang lain-lainnya, mengangguk-angguk setuju.

Kita bertanya, jika begini sikap dan kesedaran (conscience) yang boleh dituai dari perbualan tersebut, di mana pengakhirannya kepada kebejatan ini?

Nada rata-rata manusia dewasa dalam menanggapi kes jenayah buli, jenuh mengulang-sebut punca masalah anak-anak kecil yang tidak matang, kurang ajar, tiada kesedaran, jahat, bermasalah moral dan seangkatannya.

Tidak pernah sesekali, merasa bertanggungjawab, untuk mengalih rasa bersalah itu pada diri sendiri yang sudah tua bangka, yang sudah beranak bini, yang sudah punya keluarga masing-masing — bercakap dengan kesedaran selaku ibu dan bapa. Tidak pernah sama sekali.

Salahnya dalam isu buli ini, kita menoleh sepantas kilat kepada anak-anak yang terlibat dalam kes tersebut.

Kita bertanyakan, mengapa budak-budak tersebut tergamak berbuat zalim begitu, sedangkan kita lupa, bahawa acuan kepada sikap dan nurani budak-budak tersebut adalah ibu bapanya sendiri.

Tidak pula kita merasa keperluan untuk menoleh pada segi ibu dan bapa dalam soal ini?

Semestinya sesekali penulisan ini tidak berniat untuk serkap jarang pada ibu bapa terkait dengan jenayah buli dalam kalangan anak-anak mereka. Persoalan begini, harus diperhalusi dengan kanta mikro.

Hal yang terkait dengan soal sikap, karakter, disiplin dan conscience anak-anak, bermula dari didikan, atau kata lainnya, acuan yang dibina untuk membentuk kendiri tersebut dalam diri anak-anak. Tidak dapat tidak, kita terpaksa mengakui hakikat ini.

Terus menerus memandang anak-anak sebagai faktor terutama dalam perlakuan jenayah ini, hanya bertamukan kesilapan penilaian yang paling kritikal. Betah sekali untuk kita mempersalahkan diri sendiri selaku ibu bapa, atau berani bertanggungjawab atas kebejatan ini.

Mereka yang dewasa, akan bertanya; mengapa anak-anak zaman sekarang semakin ganas dan tidak berperikemanusiaan. Dulunya mereka tidak begitu, kalaupun mereka sewaktu kecil nakal juga.

Tidak sampainya rasa kemanusiaan dan kasih sayang dalam hati anak-anak ini, kerana acuan yang digunakan untuk membina mereka, cacat kemanusiaan dan kasih sayang, lemah sikap dan karakternya.

Walhasil, saban berulangnya jenayah buli kelak, pantas anak-anak akan menjadi mangsa sebagai pihak yang paling bersalah dan dipertanggungjawabkan sepenuhnya atas perlakuan itu.

Malang sekali, kita semua — manusia yang telah dewasa dan cukup akal, terlupa bahawa kitalah acuan kepada mereka.

Kita hanya mampu menggeleng kepala, mengeluh dan berborak sampai cerah tanah di kedai-kedai kopi. Kita kaku, tidak tahu untuk berbuat apa-apa.

Tuesday, September 6, 2016

“You know, you’re not that special to us.”

Perhimpunan G20 di pekan Hangzhou, China mencetuskan perbalahan yang menarik dalam kalangan pemerhati politik antarabangsa. Paling cerlang, desas-desus berhamburan seputar ketibaan Obama tidak dilayan dengan hamparan permaidani merah.

Ramai berpandangan, itu adalah serangan lembut China terhadap Amerika Syarikat — menduga kedalaman airnya. Popularnya begitu dalam kalangan pemerhati. China menyampaikan pesan bahawa, Amerika Syarikat tidak lebih tidak kurang kepada mereka.

Tetapi, dalam hal kepolitikan antara kuasa besar dunia, terutamanya antara blok Amerika Syarikat, blok China dan blok Russia, menyimpulkan sesuatu secara selapis bukanlah hal yang bijaksana, bahkan boleh mengundang bahaya.

Reaksi Obama akan hal permaidani merah itu, katanya perkara tersebut sengaja diperbesarkan media dan tidaklah penting mana pun pada dia dan delegasinya.

Dia mengakui, delegasinya memang telah ‘menyusahkan’ pihak tuan rumah sendiri lantaran saiznya yang jauh lebih besar berbanding negara lainnya.

Jawapan Obama mengingatkan kita pada suatu perkara yang penting, yakni perspektif. Isu permaidani merah, yang membezakan reaksi pemerhati dan sympathiser kedua-dua negara tersebut, adalah perspektif mereka menilai insiden tersebut.

Mungkin setengah darinya berpendapat, China bermain kasar dan seharusnya, jika pun China mahu menunjuk ego terhadap Amerika Syarikat, menggunakan kaedah memalukan musuh adalah bukan tindakan yang bijak.

Setengah yang lainnya pula, berkongsi sentimen Amerika Syarikat bukan entiti yang istimewa, yang menuntut kepada layanan khas dari pimpinan China terhadap negara tersebut. Boleh jadi, pada mereka layanan tersebut mengajar hakikat tinggi rendah langit kepada Obama.

Begitulah spektrum kasar bagi perspektif yang boleh diunjurkan menerusi insiden tersebut. Bahkan, menggunakan perkataan ‘insiden’ bagi menyifatkan keadaan tersebut, sudah menunjukkan ke mana condongnya perspektif kita.

Jelasnya, kita pasti dalam hal-hal yang terkait dengan diplomasi antarabangsa, banyak lapisan yang perlu dipertimbangkan. Tentu saja Obama boleh bereaksi balas secara kasar tetapi apa untungnya pada kepentingan negara dia dalam jangka panjang di China.

Begitu juga sebaliknya. Contohnya, kita boleh belajar sesuatu dari keceluparan Rodrigo Duterte terhadap Obama, dalam kenyataannya mengulas teguran Amerika Syarikat terhadap kempen membasmi dadah di Filipina.

Keterlanjuran itu, bak kata pepatah, terlajak perahu boleh di undur, terlajak kata buruk padahnya. Akibatnya, White House membatalkan pertemuan yang dirancang antara Obama dan Duterte dengan serta merta.

Duterte pula terpaksa menanggung malu, apabila mengeluarkan kenyataan permohonan maaf atas keterlanjuran lidahnya itu. Nasi sudah menjadi bubur?

Dari suatu segi, Duterte selaku ketua negara punya hak untuk menghalang intimidasi dan campur tangan Amerika Syarikat dalam hal domestik Filipina. Tetapi, mengguna pakai strategi yang tidak bijak begitu, juga membawa kesan yang buruk terhadap negara mereka sendiri.

Dan, perspektif negara seumpama Filipina (dan juga Malaysia), sentimen anti-intervensi kuasa besar dunia dalam hal-hal rumah tangga sendiri, juga tidak boleh dipandang enteng.

Tambahan, kita semua maklum keghairahan Amerika Syarikat mengguna pakai mantera hak asasi manusia, sebagai modal untuk masuk campur hal rumah tangga orang lain, juga suatu segi yang harus diperbincangkan secara kritis.

Apa yang boleh kita simpulkan, dalam hal-hal diplomasi antarabangsa dan hubungan politik menerusi jaringan ekonomi dan keselamatan terutamanya, segala segi dan penanda, memberi ruang kepada kita untuk membina perspektif yang berbeza dan membantu memahami sesuatu peristiwa dengan lebih baik.

Pemimpin yang gopoh dan tidak karismatik, adalah ramuan kepada bermulanya era berantakan yang tidak berkesudahan. Dalam hal begini, mengingatkan saya pada arwah John F. Kennedy.

Friday, August 26, 2016

Feudal Beragama

Saya kira, sedikit komentar seputar isu pencabulan seksual kanak-kanak bawah umur yang dilaporkan berlaku di sebuah Maahad Tahfiz, boleh dicoretkan juga di sini.

Pertamanya, kita serahkan kepada pihak polis menjalankan siasatan penuh lagi adil bagi kes jenayah ini. Moga-moga kebenaran jua yang terserlah.

Dalam pada isu ini hangat menerusi corong-corong media sosial, saya terlopong memerhatikan gelagat manusia yang kononnya beragama, tetapi begitu feudal cara mereka berfikir dan menanggapi isu begini.

Kasus perdebatan dan wacana dalam isu ini, yang sepatutnya adalah seputar hak keselamatan dan maruah kanak-kanak, bertukar kepada wujudnya agenda menjatuhkan dan mencemarkan institusi agama Islam.

Kata mereka, ini agenda jahat untuk menjatuhkan Islam.

Kata mereka lagi, ini adalah usaha untuk membuka aib agamawan dan ustaz, serta melempar najis kepada institusi pendidikan agama Islam.

Kata mereka lagi, usaha begini adalah keji, dan mereka yang turut menyokong kempen membongkar jenayah ini, akan terpalit dengan dosa fitnah dan dihumban ke neraka. Allahu...

Sampai begitu sekali feudalnya cara puak-puak yang kononnya beragama ini, berfikir. mereka lebih utamakan nama baik sekolah, dan nama baik ustaz sanjungan mereka, berbanding meneliti dan memayungi nasib dan masa depan anak-anak kecil yang dianiayai itu.

Kita hairan juga, dari mana timbulnya idea bahawa ini agenda untuk menjatuhkan Islam dan memaksa madrasah gulung tikar?

Dari awal mula lagi, kita bercakap soal hak kanak-kanak yang dianiayai. Jika kes tersebut berlaku di MCKK dan dilaporkan, atau lain-lain institusi sekalipun, ianya akan dilayan dengan cara yang sama.

Mengapa perlu dikaitkan usaha pembongkaran ini sebagai agenda untuk menjatuhkan Islam?

Mengapa sampai begitu jauh sekali, puak-puak feudal ini tersasar?

Masalah juga, apabila masyarakat kita terlalu menyanjung dan mengangkat tinggi seseorang agamawan, sehinggakan seolah-olahnya, darjat agamawan tersebut maksum — tidak dihinggap dosa, tidak boleh disentuh, apatah lagi diungkit kesilapannya.

Tulisan yang lepas, saya bercakap soal conscience. Jadinya kita bertanya, manusia feudal begini masih bersisakah conscience mereka?

Islam tidak menganjurkan kita mencipta fitnah, dan Islam juga tidak menganjurkan kita melindungi pencabul kanak-kanak. Islam menyuruh kita melindungi hak kanak-kanak, menyayangi dan mengasihi mereka.

Bidalan masyarakat kita mengajar, tak ada ribut masakan daun bergoyang.

Kita memohon yang baik-baik buat anak-anak yang menjadi mangsa. Moga ALLAH melindungi mereka dan mengasihi serta melimpahkan rahmat kepada keluarga mereka.

Tuhan, tunjukilah kebenarannya moga dengan itu nasib dan maruah anak-anak kecil ini terbela...

Monday, August 22, 2016

Darihal Conscience

Saya masih mencari-cari alih bahasa yang tepat bagi memaksudkan conscience dalam Bahasa Melayu. Sehingga ke hari ini, hanya satu frasa yang mungkin boleh dimajukan, iaitu hati nurani.

Conscience adalah suatu keadaan pemikiran, atau kognisi, yang memandu rasional dan emosi bagi menilai beza baik dan buruk, benar dan salah, dan segala yang memaksudkan dua hal yang berbeza dari unjuran kompas moral.

Boleh jadi, ianya suatu bentuk suara hati, atau perasaan yang paling dalam ketika seseorang mahu mengambil sesuatu keputusan, atau memutuskan tindakan mereka yang seterusnya.

Conscience, mungkin tidak salah untuk dianggap sebagai neraca dalam proses pertimbangan tersebut — baik ianya wajar atau tidak, membawa kebaikan atau keburukan.

Hari ini saya terbaca satu perkongsian netizen menerusi Facebook, yang bercerita pengalamannya bersama seorang pemandu Uber yang berhenti kerja selaku pegawai polis dan sepenuh masa menjadi pemandu Uber.

Alasan si pemandu Uber, kerjanya yang terdahulu tidak jujur — begitu kotor, penuh dengan rasuah dan barah itu merebak pada sekalian tingkat pentadbiran termasuklah ketuanya sendiri. Jadi, dia mengambil keputusan untuk meletak jawatan dan mencari pekerjaan yang jujur.

Pemandu Uber itu adalah contoh paling baik untuk dibawa dalam diskusi ini.

Kemampuannya untuk menilai baik dan buruk ekosistem pekerjaannya dan natijah pada diri, keluarga dan masyarakatnya jika dia memilih untuk kekal di sana, adalah hal yang jarang-jarang berlaku dalam kalangan masyarakat kita pada hari ini.

Kemampuannya itu, didorong oleh kuasa conscience. Suatu kognisi yang membangkit rasa sedar dan bersalah jika dia terus di tempat itu, dan kekesalannya pada sebuah sistem yang rosak, lantas conscience memandu keputusannya untuk keluar dari sistem tersebut.

Menulis begini mudah. Sangat mudah, tetapi realitinya tidak begitu.

Kita boleh bawakan lain-lain situasi.

Dulu, pernah suatu video bagaimana ladang penghasilan produk tenusu menyeksa dan membunuh anak-anak lembu yang baru lahir untuk mereka mengambil susu ibu lembu tersebut, viral.

Ramai yang memarahi penganiayaan tersebut, tetapi tidak ramai yang mampu merajinkan diri mereka melakukan sedikit homework bagi menyelidik syarikat tenusu manakah yang bersih dan bertanggungjawab, dan yang sebaliknya — sebelum mereka membeli susu segar di pasaraya.

Atau, mereka yang melancong ke Thailand umpamanya, berseronok menunggang gajah yang dikurung secara kejam, atau bersuka ria bergambar dengan harimau yang lali disuntik dadah, atau berhibur dengan pertunjukan sarkas binatang.

Juga, mereka yang berseronok dengan keletah binatang liar yang dikurung dalam zoo — orang utan, gajah, harimau, ikan lumba-lumba dan pelbagai lagi.

Dalam pada kasihan mereka terhadap ‘terperangkapnya’ binatang-binatang tersebut, mereka tidak mampu untuk menahan diri dari memboikot zoo dan seangkatannya dari tentatif pelancongan mereka.

Atau, ketika kita berkunjung ke restoran di hotel-hotel terkemuka. Selak sahaja halaman menu istimewa yang dihidangkan, terpampang jelas hidangan sup ikan yu atau lain-lain hidangan eksotik, contohnya telur penyu.

Saat tersebut, masih tercegat kita untuk menikmati juadah di situ, atau kita akan memilih untuk keluar mencari restoran yang lain?

Atau, lain-lain situasi yang menuntut kita berfikir soal kemanusiaan, keadilan, kasih sayang, prinsip, kebenaran dan seumpamanya.

Beberapa situasi tadi, masih bersifat individualistik jika mahu dibandingkan dengan hal yang melibatkan soal integriti undang-undang, rasuah, tatacara pentadbiran, tatakelola kewangan negara dan pemerintahan seluruhnya.

Paling mudah, kita rujuk pada skandal 1MDB. Mungkin tak perlu lagi kita persoalkan conscience pelaku-pelaku 1MDB, tetapi persoalan conscience yang wajar diketengahkan adalah kepada masyarakat terbanyak.

Bagaimana kita bersikap dalam isu ini?

Bagaimana kita memilih untuk menyatakan pendirian dalam isu ini?

Bagaimana kita melunaskan bahagian tanggungjawab kita dalam isu ini, terutamanya dalam hal untuk menyedarkan masyarakat bahawa negara kita sedang dilanda musibah yang besar?

Persoalan-persoalan ini memberi jawapan kepada kita, perihal sihat atau tidak conscience dalam diri kita yang sebenarnya. Ataupun, ianya sudah lama mati. Ataupun, ianya tidak memberi peri maksud yang penting akan kewujudannya pada jiwa kita.

Hati nurani, atau suara kecil yang dalam — conscience — itulah yang memberi panduan kepada kita untuk bersikap dengan sikap yang benar, hidup berprinsip, jujur dan menjadi manusia yang baik.

Terlalu banyak kesakitan yang dunia alami pada hari ini — peperangan, kemiskinan, kebuluran, kebobrokan pemerintahan, manipulasi, pengkhianatan amanah—berpunca dari matinya conscience.

Untuk menjadi manusia yang penuh conscience, sewajarnya bermula dengan menjadi manusia pemberani, yang bukan pengecut untuk berdiri dengan prinsip. Walaupun, paradoks dunia hari ini ramai manusia yang melarikan diri dari masalah, bersandar pada alasan conscience mereka.

Contoh mudah, beberapa perwakilan Senat Amerika Syarikat dikecam tidak mempunyai conscience apabila menolak usul melancarkan kempen persenjataan di Timur Tengah.

Mereka cuba menyandarkan sifat pengecut mereka untuk mempertahankan prinsip keadilan universal, pada alasan conscience, agar tindakan kempen persenjataan itu diabsahkan, dihalalkan majoriti. Mereka membakar sentimen dengan alasan conscience.

Hal begini mengingatkan kita pada kata-kata Lord Henry kepada Basil dalam The Picture of Dorian Gray, sebuah karya Oscar Wilde; “Conscience and cowardice are really the same things, Basil. Conscience is the trade — name of the firm. That is all.

Manusia seringkali, secara bermasalah, menyandarkan tindakan mereka yang jauh dari prinsip kebenaran, pada alasan bertindak mengikut conscience mereka. Kurang lebih, itulah yang cuba disampaikan oleh Lord Henry kepada Basil.

Menjadi pemberani, adalah prasyarat kepada conscience kembali hidup dalam jiwa seseorang manusia. Banyak sisi yang boleh kita wacanakan perihal conscience. Persoalan mengenai conscience, adalah meditasi yang perlu setiap insan lakukan.

Pemandu Uber tadi adalah seorang pemberani, kerana dia tidak justifikasikan kebimbangannya ‘putus rezeki’ sebagai pegawai polis untuk terus berada dalam sistem yang bobrok begitu, sebaliknya dia berdiri kejap atas prinsip untuk mencari rezeki yang halal.

Hanya dengan conscience, kita menjadi manusia yang benar berjiwa seorang manusia.

Friday, August 19, 2016

Olimpik dan Kemanusiaan

Owen Gibson menerusi komentarnya dalam The Guardian, mengingatkan kita betapa Olimpik 2016 di Rio de Janeiro, Brazil telah kehilangan suatu peluang keemasan untuk meraih pingat emas bagi model kemanusiaan mapan.

Dalam pada kerancakan dunia seluruhnya menonton atlet mereka beraksi, ribuan rakyat Brazil terutamanya di sekitar Rio de Janeiro mendekam air mata, menangis kegelisahan akibat kehilangan rumah dan punca rezeki akibat projek Olimpik.

Ini kisah sedih di sana. Masih segar dalam memori saya ketika melawat sendiri favela di Rio tiga tahun yang lepas melihat dengan dekat ‘kehidupan’ di perbukitan kemiskinan itu. Tuhan, tidak tergambar dengan kata-kata. Sungguh.

Apabila membaca laporan-laporan penindasan yang dilakukan oleh kerajaan tempatan Brazil bagi memberi laluan kepada projek Olimpik 2016 berjalan lancar, yang menatijahkan kesengsaraan pada rakyat terbanyak yang sudah tersedia sempit kehidupan mereka — saya kelu.

Sebenarnya, perkara itu boleh dielak. Kesengsaraan itu boleh dikurangkan. Kezaliman dan penindasan itu jauh lebih dari mampu untuk tidak diadakan. Tetapi, itu pilihan mereka selaku tuan rumah sukan berprestij itu.

Kita tidak tahu mengapa kisah-kisah begini sering menjadi tajuk berita saban pesta sukan-sukan besar seumpama Olimpik dan Piala Dunia diadakan.

Mungkin, agak saya, keghairahan tuan rumah untuk menyediakan ruang yang selesa kepada tetamu yang datang bertandang ke negara mereka, menyebabkan rakyat mereka perlu menanggung segala susah itu.

Mungkin juga, angkara perlumbaan ego tuan rumah. Beijing cuba menjadi lebih gah dari Athens. London akan berusaha menjadi lebih gah dari Beijing. Dan tentulah adat yang sama juga berulang di Rio de Janeiro.

Akibatnya, kemanusiaan menjadi bayaran kepada keghairahan dan perlumbaan ego itu.

Kita tidak tahu, bilakah akan berlangsungnya, sebuah pesta Olimpik yang menganjurkan semangat Citius, Altius, Fortius bukan sahaja di padang dan balapan, tetapi turut jua pada rasa kemanusiaan itu sendiri.

Thursday, August 18, 2016

Seni Lukis Yang Piatu

Seminggu yang lalu, Tuhan kurniakan peluang bersua muka dan menjamu akal dalam perbincangan bersama Faizal Hj. Zainal, salah seorang pelukis warna air (dan pelbagai medium lain lagi) yang hebat di tanah air kita.

Sesiapa yang mengikuti beliau menerusi halaman Facebook, tahu benar siapa gerangan Faizal Hj. Zainal — pelukis, cikgu seni yang memiliki studio di Bandar Baru Bangi, pembaca buku tegar dan gemar bercerita sejarah Bangi dan Kajang.

Sebenarnya, ia semacam rezeki, pergi ke sana menemani Azman Nor, yang juga merupakan seorang pelukis warna air yang sedang meningkat naik di Malaysia.

Dijadikan cerita, kami berbual soal susur galur seni lukis di Malaysia, khususnya warna air. Timbul persoalan dalam benak saya, perihal tergantungnya susur galur sejarah seni lukis di Malaysia, yang bersifat “muncul secara tiba-tiba” pada era lewat 20-an.

Rasa kaget begini, ada asas tersendiri.

Pertama, kita terbiasa mendengar kisah kegemilangan pemerintahan di Melaka, kalaupun ianya tidak mencapai tahap peradaban, namun begitu kegemilangan di Melaka tiada diterjemahi langsung dalam mana-mana catatan berbentuk seni lukis — sebagaimana di lain-lain tempat.

Contoh mudahnya, catatan berbentuk lukisan minyak yang memaparkan gaya hidup bangsawan era Renaissance. Tetapi, hal begini tidak wujud dalam susur galur sejarah seni lukis di Malaysia.

Kita seolah-olahnya terputus sanad.

Kata Abang Faizal, seni lukis di Malaysia tidak mempunyai pengalaman-pengalaman sebagaimana seni lukis di Eropah berkembang, di mana mereka melalui fasa demi fasa sehingga mencapai tahap yang kita lihat pada hari ini.

Pengalaman yang dimaksudkan, adalah pembabakan perkembangan seni.

Seumpama seni di Eropah melalui pengalaman Renaissance, berkembang sehingga ke babak surealisme, impresionisme, pasca-impresionisme dan selanjutnya bermula abad ke-15 sehingga awal abad ke-20.

Pengalaman-pengalaman begini, tidak berlaku di Malaysia.

Kita membaca sejarah warna air di Malaysia bermula lewat 20-an dari sosok bernama Yong Mun Seng. Ianya pada awal abad ke-20. Jadinya kita bertanya, mengapa muncul tiba-tiba begitu sahaja, tanpa ada sejarah dan leluhur yang boleh dijadikan premis kewujudannya?

Timbul persoalan pada benak kami semua, pada sehebat dan seagung Melaka yang tidak segan untuk dipanggil sebagai peradaban di bumi Nusantara waktu itu, tidak tertinggal walau sekeping warisan seni lukiskah?

Tidak wujudkah mana-mana lukisan dalam apa saja medium bagi menggambarkan suasana kehidupan bangsawan ketika itu, bagaimana masyarakat berjual-beli dan pelbagai lagi?

Apakah sultan-sultan dan pembesar terdahulu tidak mempunyai barang sedikit keinginan untuk mengabadikan potret mereka dalam bentuk seni lukis, sebagaimana di Eropah yang mana bangsawan mengupah para pelukis mengacah wajah mereka pada kanvas-kanvas potret?

Maksud saya di sini, persoalan-persoalan itu akhirnya pergi pada suatu sudut, yakni mustahil akan berlaku hal-hal di atas pada adab kebiasaan sebuah masyarakat semaju Melaka.

Sebab itulah, kita tertanya-tanya, lahirnya seni lukis di Malaysia, terutamanya seni warna air seolah-olahnya tiba-tiba muncul — tanpa guruh tanpa ribut. Bunyinya tidak masuk akal dan pelik.

Saya merasakan, suatu kajian yang lebih menyeluruh, mendalam, dan kita tahu akan memakan masa yang amat lama, harus segera dilaksanakan, dimulakan, bagi menggali semula misteri ini, agar persoalan-persoalan itu tidak tergantung tak bertali.

Contohnya, apakah wujud suatu usaha terancang di peringkat kolonial untuk menghapuskan sisa-sisa warisan seni Nusantara, termasuklah kita sedar betapa banyak manuskrip sastera Nusantara diangkut ke bumi Eropah zaman itu?

Pertanyaan-pertanyaan begini, tidak akan terjawab di sini melainkan projek kajian ini benar-benar dilancarkan dan mendapat sokongan padu dari pihak kerajaan sendiri.

Sudah pasti, pada hari ini, kalaupun kita boleh bertanya, hanya satu soalan yang absah; di mana titik asalan yang harus kita mulakan?

Jika tidak, kita akan terus menerus dalam kehilangan.

Saturday, August 13, 2016

Loss of Adab

On loss of adab, an abridgement from the Introduction of Syed Muhammad Naquib al-Attas's Aims and Objectives of Islamic Education, at the First World Conference on Islamic Education held at Mecca in 1977.

As to the internal causes of the dilemma in which we find ourselves, the basic problems can — it seems to me — be reduced to a single evident crisis which I would simply call the loss of adab.

I am here referring to the loss of discipline — the discipline of body, mind, and soul, the discipline that assures the recognition and acknowledgement of one's proper place in relation to one's self, society and Community; the recognition and acknowledgement of one's proper place in relation to one's physical, intellectual, and spiritual capacities and potentials; the recognition and acknowledgement of the fact that knowledge and being are ordered hierarchically.

Since adab refers to recognition and acknowledgement of the right and proper place, station, and condition in life and to self-discipline in positive and willing participation in enacting one's role in accordance with that recognition and acknowledgement, its occurrence in one and in society as a whole reflects the condition of justice.

Loss of adab implies loss of justice, which in turn betrays confusion in knowledge.

In respect of the society and community, the confusion in knowledge of Islam and the Islamic world-view creates the condition which enables false leaders to emerge and to thrive, causing the condition of injustice.

They perpetuate this condition since it ensures the continued emergence of leaders like them to replace them after they are gone, perpetuating their domination over the affairs of the Community.

Thus to put it briefly in their proper order, our present general dilemma is caused by:

  1. Confusion and error in knowledge, creating the condition for:
  2. The loss of adab within the Community. The condition arising out of (1) and (2) is:
  3. The rise of leaders who are not qualified for valid leadership of the Muslim community, who do not possess the high moral, intellectual and spiritual standards required for Islamic leadership, who perpetuate the condition in (1) above and ensure the continued control of the affairs of the Community by leaders like them who dominate in all fields.

All the above roots of our general dilemma are interdependent and operate in a vicious circle.

But the chief cause is confusion and error in knowledge, and in order to break this vicious circle and remedy this grave problem, we must first come to grips with the problem of loss of adab, since no true knowledge can be instilled without the precondition of adab in the one who seeks it and to whom it is imparted.

Thus, for sublime example, God Himself commands that the Holy Quran, the Fountain of all true knowledge, cannot even be touched in approach save through the prescribed adab or ritual purity.

Knowledge must be approached reverently and in humility, and it cannot be possessed simply as if it were there available to everyone irrespective of intention and purpose and capacity. Where knowledge of Islam and the Islamic world-view is concerned, it is based on authority.

Since Islam is already established in perfection from the very beginning, requiring no further developmental change nor evolution towards perfection, we say again that adequate knowledge about Islam is always possible for all Muslims.

There can be no relativism in the historical interpretation of Islam, so that knowledge about it is either right or wrong, or true or false, where wrong and false means contradiction with the already established and clear truth, and right and true means conformity with it. Confusion about such truth means simply ignorance of it, and this is due not to any inherent vagueness or ambiguity on the part of that truth.

The interpretation and clarification of knowledge about Islam and the Islamic world-view is accomplished by authority, and legitimate authority recognizes and acknowledges a hierarchy of authorities culminating in the Holy Prophet, upon whom be Peace.

It is incumbent upon us to have proper attitude towards legitimate authority, and that is reverence, love, respect, humility and intelligent trust in the veracity of the knowledge interpreted and clarified by such authority.

Reverence, love, respect, humility and intelligent trust can be realized in one only when one recognizes and acknowledges the fact that there is a hierarchy in the human order and in authority within that hierarchy in the matter of intelligence, spiritual knowledge and virtue.

In respect of the human order in society, we do not in the least mean by 'hierarchy' that semblance of it wherein oppression and exploitation and domination are legitimized as if they were an established principle ordained by God.

The fact that hierarchical disorders have prevailed in human society does not mean that hierarchy in the human order is not valid, for there is, in point of fact, legitimate hierarchy in the order of creation, and this is the Divine Order pervading all Creation and manifesting the occurrence of justice.

God is the Just, and He fashions and deploys all Creation in justice.

In order that mankind generally might recognize and acknowledge the just order, He has bestowed upon His Prophets, Messengers and men of piety and spiritual discernment, the wisdom and knowledge of it so that they in turn might convey it to mankind who ought to conform with it as individuals and as a society.

And this conformity with that order is the occurrence of adab; the resulting condition of that conformity is justice.

Monday, August 8, 2016

“There has to be a point at which you say, 'Enough,'”

Dalam pertemuan antara Obama dan Lee Hsien Loong di White House, Obama telah menghamburkan kritikan terhadap Trump dalam tempoh LIMA minit yang cukup tajam dan keras.

Katanya, sudah tiba masanya untuk pemimpin utama Republikan menjarakkan diri mereka dari Trump.

Cukup-cukuplah, mudahnya begitu mesej Obama kepada kepala-kepala utama Republikan.

Saya terfikir, mesej yang sama juga harus disampaikan kepada Najib Razak dan gerombolannya. Cukup-cukuplah, sebelum amarah rakyat meledak tanpa terkawal kelak.

Ini bukan teori lagi. Kita dapat lihat dan belajar sendiri dari pengalaman bagaimana kemarahan rakyat Libya yang tidak diendahkan oleh Gaddafi pada akhirnya hanya membawa malapetaka yang lebih besar kepada Libya itu sendiri.

Juga di Syria dengan kepala keras Assad yang enggan sama sekali tunduk kepada desakan rakyat agar dia turun dari posisi nombor satu itu, dan digantikan dengan sosok yang lain, yang dipilih secara demokratik.

Sebenarnya, permintaan (atau gesaan) sebegitu rupa tidak pelik langsung. Apabila sudah tiba waktu di mana seseorang itu tidak lagi mendapat sokongan seumpama dulunya lagi, maka rakyat akan mendesak untuk perubahan berlaku.

Perkara yang menjadi pelik pada hemat saya, adalah keengganan mana-mana politikus memberi laluan kepada demokrasi menjalankan tanggungjawabnya menentukan siapa yang berhak pada posisi tersebut.

Pelik, dengan politikus yang mengandaikan bahawa jawatan tersebut berupa restu dari langit, yang harus dikekalkan pada nama mereka sehingga ke liang lahad.

Pelik, dengan politikus yang gagal melihat masa depan negaranya dan generasi akan datang yang bakal tergadai akibat keras kepala dan ketamakan mereka.

Kita pergi ke benua Afrika, mengambil contoh di sana bagaimana Robert Mugabe mempertahankan takhta Presidennya hampir EMPAT dekad lamanya — sehingga ke hari ini.

Persoalan yang timbul, sudah pupuskah manusia yang boleh menggantikan beliau di Zimbabwe sehinggakan “terpaksa” terus membiarkan dia berkuasa dan berlaku sewenang hati perutnya?

Sampai bila dia mahu terus berkuasa?

Demikian hal jua yang berlaku di sini, cukup-cukuplah wahai Najib Razak. Bukankah turun secara terhormat itu lebih wajar berbanding terus membiarkan negara ini terperosok ke lembah malapetaka yang jauh lebih besar?

Sekarang kita cuma berdepan dengan masalah ini — Najib Razak.

Saya membayangkan, saatnya Malaysia mula menjadi huru-hara (moga-moga tidaklah sampai ke fasa begitu), ketika itu kita akan terkeliru dengan masalah sebenar, atau punca masalah yang harus diselesaikan.

Kita akan berdepan dengan ribuan masalah lain, yang kita tiada maklum hujung pangkalnya.

Saya membayangkan tarikh 17 Februari 2011 di mana perang saudara di Libya mula tercetus. Ketika itu, selain Gaddafi (masalah utama mereka), sudah timbul sekalian ribuan lagi masalah lain yang menyesakkan dada keseluruhan rakyat Libya.

Akhirnya, mereka kelam. Pertembungan mereka tiada arah tujuan. Tiada pemimpin yang mampu menyatukan mereka. Natijahnya, Libya seperti apa yang kita tonton pada hari ini.

Mengulangi pesan Obama, ‘Enough,’ — cukup-cukuplah wahai Najib Razak. Berundurlah...