Friday, May 14, 2010

Sungguh

Sungguh, aku melihat diri mu, memakai kalungan pencerahan,
Demi sebuah kebangkitan, yang menjanjikan perubahan, pada anak bangsa…
Sungguh, aku makin tegar menyelak, jendela keadilan buat seantero,
Bintang harapan menjadi saksi, pada sebuah paksi insani, meskipun gawat ia berlalu,
Namun takkan terus menyusut….

Sungguh, pantas kah ia merebak, menjadi budaya buatan, tanpa dominasi nilai,
Menerobos sempadan pekerti, insan normal itu sedar, ianya takkan berkekalan…..
Sungguh, diam itu bukan penyelesaian, meskipun ia satu nasihat,
Massa tetap utuh mengekang, sejarah datang memondong, bangsa terus terhimpit,
Menyatukan segala keresahan…

Sungguh, rayuan terus kedengaran, namun dibutakan dengan impian, kalut menangani kehendak, tewas dek nafsu serakah…
Sungguh, insan itu makin mengerti, wujudnya akan penguasa sejati, setelah kepahitan diuji diulit, bangkit ia menjadi satirawan….
Sungguh, minda kosong terus mengerawang, mencari batas keperluan, digasak mencari kepastian,
Kejujuran sebagai tapak berpijak….

Sungguh, insan belukar terus menyembah, menanti habuan sementara, tanpa lunas keadilan,
Membaja kan tunas kezaliman…
Sungguh, anak generasi mu, pasti murka pada nenek dan moyangnya,
Mengenang sebuah kegagalan, membina pewaris berkekalan…

Sungguh, tuntas insan pada menerima, namun masa itu terus berlari, menuntut akan satu revolusi….
Sungguh, tuhan itu Maha Kaya, tahu akan segalanya, cuma masa menentukan,
Setiap insan pasti merasa, meskipun ronta makin kedengaran, angkuh itu sudah resminya….

Sungguh, kau lihat dan saksikan, bila norma ditukar diinjak, tanpa belas tanpa kasihan, menunggu saat kehancuran, tika itu insan sedar, betapa tingginya gunung, lagi tinggi awan di puncaknya…
Sungguh, matlamat tetap sekata, maslahat terus menebar, menjaringkan pelamin wawasan,
Moga terus bersemarak, dalam citra insan sejagat….

Sungguh, kekuatan insan bukan figuritas, namun sekutu menjadi ikutan,
Bangkit sedar dalam arus kegelapan, menyinar dasar gerombolan, menjadi pentas kebenaran….

Sungguh, kau pejuang kebangkitan
Usah mimpikan mahligai intan, insan lain merana meratap,
Sedang kita senang bergelimpangan…

Sungguh, hari ini mereka bisa, mengulum lidah menguap, sambil meroyan berkata;
“Kamu cuma angan-angan”,
Kejunglah mata mu menyaksikan, nista mu tidak berpanjangan, kerna bumi ini milik Yang Esa….
Sungguh, tiba saat mereka merengek, memohon belas namun dipedulikan,
Kita bersorak menang, inilah kebenarannya….

Sungguh, tiada manis dalam kebangkitan, pahitnya semua maklum,
Selagi kebatilan, merajai segenap penjuru, alam makin terseksa….

Sungguh, rindu kita bertaburan, mengenang sebuah kemunculan,
Di balik senandung kekuatan, DIA jua penentunya…

Sungguh, kita hampa kita kosong, mendaya gunakan segalanya, mengekang sebuah kekejaman,
Dari terus menebar sayapnya, dalam pada lemah segalanya,
Namun kamus enggan terbitkan, sepatah kata meruntun jauh, jiwa-jiwa sang kemarau….

Sungguh, saat halal itu haram,
Maka saksikan kehancuran….
Sungguh, saat haram itu halal,
Maka tunggulah kemusnahan…

Sungguh, kita bukan dicipta, hanya untuk menadah,
Namun diajar memberontak, demi sebuah maruah, dari terus diinjak dipijak….

Sungguh, ganjaran material itu tuhan, buat mereka hantu bangsa,
Langsung tak ngerti, akan dosa dan nista,
Meskipun hanyut terus hina,
mereka buat demi segalanya….

Sungguh, aku tak kan tertipu, dek mainan keji ini,
Sedarlah belia muda mudi, dunia tidak akan berubah, tanpa mu mengatur kekuatan,
Berdiri selari sebaris, menjana saf keyakinan, bersama kita raikan, kekuatan itu bersama….

Sungguh, dajal tak pernah mengenal, laknat dan rahmat,
Cuma tahu kepalsuan semata, dalam segala ruang dan waktu,
Terus menghimpit segenap tika, menginjak segala hukum, menabrak sang kejujuran…

Sungguh, tiada erti lelah, untuk membakar perjalanan,
Hingga kebenaran, tidak akan bisa musnah, oleh kebatilan…

Sungguh, kita bisa menipu orang, namun tidak bisa menipu akan diri,
Kerana diri itu mengerti haknya, lalu memberontak menuntut kemahuan, lalu reformasi menjadi sandaran….

Sungguh, puisi ini puisi CINTA, puisi PENCERAHAN, puisi KEBANGKITAN,
Puisi METAFORA REVOLUSI, puisi ANCAMAN, puisi KEAZAMAN,
Puisi ini puisi SUNGGUH segalanya…

Sungguh,
Kerana aku CINTA….
Sungguh aku CINTA….
Moga bersemi bersama CINTA…
Sungguh…

--------
Dedikasi buat si pemberi lesen judi.