Tuesday, May 11, 2010

Khalid bin Zaid: Si Tua Yang Berjiwa Remaja

Sahabat yang mulia ini bernama KHALID BIN ZAID BIN KULAIB dari Bani Najjar. Gelar nya Abu Ayyub, dan golongan Ansar. Siapakah di antara kaum Muslimin yang belum mengenali siapakah Abu Ayyub Al-Ansari?

Nama dan darjatnya dimuliakan Allah di kalangan makhluk, baik di Timur mahupun di Barat. Karena Allah telah memilih rumahnya dalam kalangan rumah kaum Muslimin, untuk menjadi tempat tinggal Rasulullah SAW, ketika baginda baru tiba di Madinah sebagai Muhajir. Hal ini cukup membanggakan bagi Ayu Ayyub Al-Ansari.

Bertempat nya Rasulullah di rumah Abu Ayyub merupakan kisah manis untuk diulang-ulang dan enak untuk diingati. Setibanya Rasulullah di Madinah, beliau disambut dengan hati terbuka oleh seluruh penduduk, beliau dialu-alukan dengan kemuliaan yang belum pernah diterima seorang tetamu atau utusan mana pun.

Seluruh mata tertuju kepada beliau memancarkan kerinduan seorang kekasih kepada kekasihnya yang baru tiba. Mereka membuka hati selebar-lebarnya untuk menerima kasih sayang Rasulullah. Mereka buka pula pintu rumah masing-masing, supaya kekasih mulia yang dirindukan itu sudi tinggal di rumah mereka.

Sebelum sampai di kota Madinah, beliau berhenti terlebih dahulu di Quba selama beberapa hari. Di kampung itu beliau membina masjid yang pertama didirikan atas dasar takwa.

Sesudah itu beliau meneruskan perjalanan ke kota Yathrib mengenderai unta. Para pemimpin Yathrib berdiri sepanjang jalan yang akan dilalui beliau untuk kedatangannya. Masing-masing berebut meminta Rasulullah tinggal di rumahnya. Karena itu Sayyid demi Sayyid menghalang dan memegang tali untuk beliau untuk membawanya ke rumah mereka.

“Ya, Rasulullah! Sudilah Anda tinggal di rumah saya selama Anda menghendaki. Kelengkapan dan keamanan anda terjamin sepenuhnya.”

Kata mereka penuh berharap. Jawab Rasulullah,

“Biarkanlah unta itu berjalan ke mana dia mahu, karena dia sudah mendapat perintah.”

Unta Rasulullah terus berjalan sambil diikuti semua mata, dan diharap-harapkan seluruh hati. Bila untuk melewati sebuah rumah, terdengar keluhan putus asa pemiliknya, karena apa yang diangan-angankan nya ternyata hampa. Unta terus berjalan melenggang seenaknya. Orang banyak mengiringi di belakang. Mereka ingin tahu siapa yang beruntung dan rumahnya ditempati tamu dan kekasih yang mulia ini.

Sampai di sebuah lapangan, iaitu di kawasan halaman rumah Abu Ayyub Al Al-Ansari unta itu berlutut. Rasulullah tidak segera turun dan punggung unta. Unta itu disuruhnya berdiri dan berjalan kembali. Tetapi setelah berpusing-pusing, unta itu berlutut kembali di tempat asal. Abu Ayyub bertakbir kerana sangat gembira.

Dia segera mendekati Rasulullah dan melapangkan jalan bagi beliau. Diangkatnya barang-barang beliau dengan kedua tangannya, bagaikan mengangkat seluruh perbendaharaan dunia. Lalu dibawanya ke rumahnya Rumah Abu Ayyub bertingkat tingkat atas dikosongkan dan dibersihkannya untuk tempat tinggal Rasulullah.

Tetapi Rasulullah lebih suka tinggal di bawab. Abu Ayyub menurut saja di mana beliau senang. Setelah malam tiba, Rasulullah masuk ke kamar tidur. Abu Ayyub dan isterinya naik ke tingkat atas. Ketika suami isteri itu menutupkan pintu, Abu Ayyub berkata kepada isterinya,

“Celaka….! Mengapa kita sebodoh ini. Pantas kah Rasulullah bertempat di bawah, sedangkan kita berada lebih tinggi dari baginda. Pantas kah kita berjalan di atas beliau? Pantas kah kita menghalangi antara Nabi dan Wahyu? Nescaya kita celaka!”

Kedua suami isteri itu bingung, tidak tahu apa yang harus diperbuat. Tidak berapa lama berdiam diri, akhirnya mereka memilih kamar yang tidak setentang dengan kamar Rasulullah. Mereka berjalan berjingkit-jingkit untuk menghindarkan suara telapak kaki mereka. Setelah hari Subuh, Abu Ayyub berkata kepada Rasulullah,

“Kami tidak mahu terpejam sepicing pun malam ini. Baik aku mahu pun ibu Ayyub”

“Mengapa begitu?”

“Aku ingat, kami berada di atas sedangkan Rasulullah yang kami muliakan berada di bawah. Apabila bergerak sedikit saja, abu berjatuhan mengenai Rasulullah. Di samping itu kami mengalingi Rasulullah dengan wahyu”

“Tenang sajalah, hai Abu Ayyub. Saya lebih suka bertempat tinggal di bawah, karena akan banyak tamu yang datang berkunjung”

“Akhirnya saya mengikuti kemahuan Rasulullah”

Pada suatu malam yang dingin, bejana kami pecah di tingkat atas, sehingga airnya tumpah. Kain lap hanya ada sehelai, karena itu air yang kami keringkan dengan baju, kami sangat khuatir kalau air mengalir ke tempat Rasulullah. Saya dan Ibu Ayyub bekerja keras mengeringkan air sampai habis. Setelah hari Subuh saya pergi menemui Rasulullah. Saya berkata kepada beliau,

“Sungguh mati, saya segan bertempat tinggal di atas, sedangkan Rasulullah tinggal di bawah”

Kemudian Abu Ayyub menceritakan kepada beliau perihal bejana yang pecah itu. Karena itu Rasulullah memperkenankan kami pindah ke bawah dan beliau pindah ke atas. Rasulullah tinggal di rumah Abu Ayyub kurang lebih tujuh bulan. Setelah masjid Rasulullah selesai di bangun, beliau pindah ke kamar-kamar yang dibuatkan untuk beliau dan para isteri beliau sekitar masjid. Sejak pindah dari rumah Abu Ayyub, Rasulullah menjadi tetangga dekat bagi Abu Ayyub.

Rasulullah sangat menghargai Abu Ayyub suami isteri sebagai tetangga yang baik. Abu Ayyub mencintai Rasulullah sepenuh hati.

Sebaliknya beliau mencintainya pula, sehingga mereka saling membantu setiap kesusahan masing-masing. Rasulullah memandang rumah Abu Ayyub seperti rumah sendiri. Ibnu ‘Abbas pernah bercerita sebagai berikut,

Pada suatu hari di tengah hari yang amat panas, Abu Bakar pergi ke masjid, lalu bertemu dengan ‘Umar r.a. “Hai, Abu Bakar! Mengapa Anda keluar di saat panas begini?” tanya Umar.

Jawab Abu Bakar, “Saya lapar!” Kata ‘Umar, “Demi Allah! Saya juga lapar.” Ketika mereka sedang berbincang begitu, tiba-tiba Rasulullah muncul. Tanya Rasulullah, “Hendak ke mana kalian di saat panas begini?” Jawab mereka, “Demi Allah! Kami mencari makanan kerana lapar.” Kata Rasulullah, ‘Demi Allah yang jiwa ku di tangan Nya! Saya juga lapar. Nah! Marilah ikut saya.”

Mereka bertiga berjalan bersama-sama ke rumah Abu Ayyub Al-Ansari. Biasanya Abu Ayyub selalu menyediakan makanan setiap hari untuk Rasulullah. Bila beliau terlambat atau tidak datang, makanan itu dihabiskan oleh keluarga Abu Ayyub.

Setelah mereka tiba di pintu, Ibu Ayyub keluar menyambut mereka.

“Selamat datang, ya Nabiyallah dan kawan-kawan!”

“Ke mana Abu Ayyub?” tanya Rasulullah. Ketika itu Abu Ayyub sedang bekerja di kebun kurma dekat rumah. Mendengar suara Rasulullah, dia bergegas menemui baginda.

“Selamat datang, ya Nabiyallah dan kawan-kawan! Ya Nabiyallah, biasanya anda tidak datang pada waktu seperti sekarang”

“Betul, hai Abu Ayyub!

Abu Ayyub pergi ke kebun, lalu dipotongnya setandan kurma. Dalam setandan itu terdapat kurma yang sudah kering, yang basah dan yang setengah masak. Kata Rasulullah,

“Saya tidak menghendaki engkau memotong kurma setandan begini. Alangkah baiknya jika engkau petik saja yang sudah kering.”

Jawab Abu Ayyub,

“Ya, Rasulullah! Saya senang jika anda suka mencicip buah kering, yang basah, dan yang setengah masak. Sementara itu saya sembelih kambing untuk anda bertiga.”

Kata Rasulullah,

“Jika engkau menyembelih, jangan disembelih kambing yang sedang menyusu”

Abu Ayyub menangkap seekor kambing, lalu disembelihnya. Dia berkata kepada Ibu Ayyub,

“Buat adunan roti. Engkau lebih pintar membuat roti.”

Abu Ayyub membahagi dua sembelihannya. Separuh di gulainya dan separuh lagi dipanggang nya. Setelah masak, maka dihidangkannya ke hadapan Rasulullah dan sahabat beliau. Rasulullah mengambil sepotong gulai kambing, kemudian diletakkannya di atas sebuah roti yang belum dipotong. Baginda berkata,

“Hai Abu Ayyub! Tolong hantarkan ini kepada Fatimah. Sudah beberapa hari ini dia tidak mendapat makanan seperti ini.”

Selesai makan, Rasulullah berkata,

“Roti, daging, kurma kering, kurma basah dan kurma setengah masak.”

Air mata baginda mengalir ke pipinya.

Kemudian beliau bersabda,

“Demi Allah yang jiwa ku di tangan-Nya. Sesungguhnya beginilah nikmat yang kalian minta nanti di hari kiamat. Maka apabila kalian memperoleh yang seperti in bacalah “Bismillah” lebih dahulu sebelum kalian makan. Bila sudah kenyang, baca tahmid, “Segala puji bagi Allah yang telah mengenyangkan kami dan memberi kami nikmat”

Kemudian Rasulullah saw. bangkit hendak pulang, baginda berkata kepada Abu Ayyub,

“Datanglah besok ke rumah kami!”

Sudah menjadi kebiasaan bagi Rasulullah, apabila seseorang berbuat baik kepadanya, beliau segera membalas dengan yang lebih baik. Tetapi Abu Ayyub tidak mendengar perkataan Rasulullah kepadanya. Lalu dikata oleh ‘Umar,

“Rasulullah menyuruh kamu datang besok ke rumahnya.”

Kata Abu Ayyub,

“Ya, saya patuhi setiap perintah Rasulullah.”

Keesokan harinya Abu Ayyub datang ke rumah Rasulullah. Beliau memberi Abu Ayyub seorang gadis kecil untuk menjadi pembantu rumah tangga. Kata Rasulullah,

“Perlakukanlah anak ini dengan baik, hai Abu Ayyub! Selama dia di tangan kami, saya lihat anak ini baik.”

Abu Ayyub pulang ke rumahnya membawa seorang gadis kecil.

“Untuk siapa ini, Abu Ayyub?” tanya Ummu Ayyub.

“Untuk kita. Anak kita diberikan Rasulullah kepada kita,” jawab Abu Ayyub.

“Hargailah pemberian Rasulullah. Per lakukan anak ini lebih daripada sekadar suatu pemberian“ kata Ibu Ayyub.

“Memang! Rasulullah berpesan supaya kita bersikap baik terhadap anak ini,” kata Abu Ayyub.

“Bagaimana selayaknya sikap kita terhadap anak ini, supaya pesan beliau terlaksana?” tanya Ibu Ayyub.

“Demi ALLAH! Saya tidak melihat sikap yang lebih baik, melainkan memerdekakan nya,” jawab Abu Ayyub.

“Kakanda benar-benar mendapat hidayah Allah. Jika kakanda setuju begitu, baiklah kita merdekakan dia,” kata Ibu Ayyub menyetujui.

Lalu gadis kecil itu mereka merdekakan. Itulah sebagian bentuk nyata kondisi kehidupan Abu Ayyub setelah dia masuk Islam.

Kalau dipaparkan sirah kehidupannya dalam peperangan, kita akan tercengang dibuatnya. Sepanjang hayatnya Abu Ayyub hidup dalam peperangan. Sehingga dikatakan orang,

“Abu Ayyub tidak pernah “ponteng” dalam setiap peperangan yang dihadapi kaum Muslimin sejak masa Rasulullah sampai dia wafat di masa pemerintahan Mu ‘awiyah. Kecuali bila dia sedang bertugas dengan suatu tugas penting yang lain.’’

Peperangan terakhir yang ikutinya, ialah ketika Muawiyah mengerahkan tentera Muslimin merebut Kota Constantinople. Abu Ayyub seorang perajurit yang patuh dan setia. Ketika itu dia telah berusia lebih lapan puluh tahun, satu usia yang boleh dikatakan usia akhir tua.

Tetapi usia tidak menghalangnya untuk bergabung dengan tentera Muslimin di bawah bendera Yazid bin Mu’awiyah. Dia tidak menolak mengharungi laut, membelah ombak untuk berperang fi sabilillah.

Tetapi belum berapa lama dia berada di medan tempur menghadapi musuh, Abu Ayyub jatuh sakit. Abu Ayyub terpaksa istirahat di perkhemahan, tidak dapat melanjutkan peperangan karena fizikalnya sudah lemah. Ketika Yazid mengunjungi Abu Ayyub yang sakit, panglima ini bertanya,

“Adakah sesuatu yang anda kehendaki, hai Abu Ayyub?”

Jawab Abu Ayyub,

“Tolong sampaikan salam saya kepada seluruh tentera Muslimin. Katakan kepada mereka, Abu Ayyub berpesan supaya kalian semuanya terus maju sampai ke jantung daerah musuh. Bawalah saya berserta kalian. Kalau saya mati, kuburkan saya dekat kubu Kota Constantinople!”

Tidak lama sesudah ia berkata demikian, Abu Ayyub menghembuskan nafasnya yang terakhir. Dia wafat menemui ALLAH di tengah-tengah kancah pertempuran. Tentera Muslimin memperkenankan keinginan sahabat Rasulullah yang mulia ini.

Mereka berperang dengan gigih, menghalau musuh dari satu medan ke medan tempur yang lain. Sehingga akhirnya mereka berhasil menakluk kubu Kota Constantinople, sambil membawa jenazah Abu Ayyub. Dekat sebuah kubu kota Constantinople mereka menggali makam, lalu mereka makam kan jenazah Abu Ayyub di sana, sesuai dengan pesan Abu Ayyub.

Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Abu Ayyub. Dia tidak ingin mati kecuali dalam barisan tempur yang sedang berperang fi sabilillah.

Sedangkan usianya telah mencapai lapan puluh tahun!

--------
Nota buat diri:

Malulah dikau akan dia, Abu Ayyub Al-Ansari.

Meskipun sedar dirinya sudah tiada kudrat untuk mengangkat pedang, namun dia tetap merasakan WAJIB nya dia berada dalam pertempuran itu.

Ingatan buat diri, jangankan mengayun pedang, nak bangkit Subuh dari tidur pun begitu berat rasanya.

Keinginannya untuk menjadi SEBAIK-BAIK tentera sepertimana disabdakan Rasulullah tentang penaklukan Constantinople ini nyata menjadi azimat ampuh buat dia…

Inilah dia si TUA yang berjiwa REMAJA.

Namun sayang hasrat dan cita-citanya itu tidak tercapai saat itu namun 800 tahun kemudian, ALLAH telah memenangkan tentera ISLAM di bawah pimpinan Sultan Muhammad Al-Fateh untuk menakluki Constantinople seterusnya membenarkan sabda Rasulullah tentang penaklukan bersejarah itu.