Wednesday, April 14, 2010

Pengertian Cinta dan Pengorbanan

Pada peristiwa Baiat Aqabah ke-2, 70 orang lelaki dan 2 orang perempuan dari Madinah telah berjanji setia kepada Rasulullah. Di antara 70 orang lelaki tersebut termasuklah Habib bin Zaid dan ayahnya (Zaid bin Ashim). Sedangkan 2 orang wanita itu adalah ibunya (Nusaibah binti Ka’b) dan makciknya.

Habib merupakan seorang mukmin yang sejati. Keimanan telah mendarah daging pada dirinya. Semenjak Nabi berhijrah ke Madinah, beliau tidak pernah tertinggal walaupun satu peperangan dan tidak pernah menolak tugas yang diberikan.

Pada suatu ketika, di selatan jazirah Arab muncul dua pembohong besar yang mengaku sebagai Nabi dan mengajak pada kesesatan. Seorang di Shan’a, iaiyu Aswad bin Ka’b aI-Ansi dan seorang lagi di Yamamah, iaitu Musailamah aI-Kadzdzab.

Keduanya menghasut para pengikutnya untuk memusuhi orang yang masih beriman kepada Nabi Muhammad saw serta utusannya yang datang untuk berdakwah kepada mereka. Mereka melecehkan kenabian dan menebar kerosakan dan kesesatan di muka bumi.

Pada suatu hari, Rasulullah didatangi seorang utusan Musailamah dengan membawa sepucuk surat yang berisi,

“Kepada Muhammad utusan Allah. Salam sejahtera untukmu. Saya telah diangkat menjadi sekutumu dalam urusan kenabian. Karena itu, kami berhak memiliki separuh wilayah dan orang-orang Quraisy berhak memiliki separuh wilayah. Akan tetapi, orang-orang Quraisy melampaui batas”

Rasulullah memanggil salah seorang daripada sahabat yang boleh menulis, lalu menyuruhnya untuk menulis jawabannya,

“Bismillahirrahmanirrahim. Dari Muhammad Rasulullah SAW. Kepada Musailamah al-Kadzdzab (si pembohong). Salam sejahtera bagi orang yang mahu mengikuti petunjuk. Sesungguhnya, bumi ini adalah milik Allah. Diwariskan kepada siapa yang dikehendaki dan kesudahan yang baik berada di pihak orang-orang yang bertakwa.”

Kata-kata Rasulullah saw bagai cahaya pagi yang membuka aib si pembohong dari bani Hanifah itu. Ia telah keliru ketika menganggap kenabian seperti kerajaan, hingga menuntut separuh wilayah kekuasaan dan separuh jumlah penduduk.

Jawapan Rasulullah saw itu dibawa oleh utusan Musailamah dan diberikan kepada Musailamah. Membaca surat itu, Musailamah tidak menjadi insaf, tetapi semakin sesat dan menyesatkan.

Sang pembohong itu masih menyebarkan kebohongan dan kepalsuannya, gangguan dan hasutan terhadap orang-orang beriman semakin menjadi-jadi. Lalu, Rasulullah mengirimkan surat peringatan agar kebodohan itu dihentikan. Habib bin Zaid terpilih sebagai pengantar surat itu kepada Musailamah. Habib sangat gembira menerima tugas itu. la berharap Musailamah sedar sehingga secara automatik beliau mendapat pahala besar karena turut terlibat dalam menyedarkan Musailamah.

Habib tiba di tempat tujuan. la sampaikan surat itu kepada Musailamah.

Musailamah membaca dengan cermat. Namun, cahaya hidayah yang terpancar dari surat tersebut tidak mampu memberi kebaikan kepadanya, sehingga dia semakin hanyut dalam kesesatan dan kepalsuannya.

Kerana Musailamah tidak lebih dari seorang pembohong besar dan penipu ulung, maka sifat yang dimiliki hanyalah sifat sang pembohong dan penipu. Ia sama sekali tidak menghormati etika yang berlaku. Tanpa rasa malu, ia membunuh utusan penghantar surat, padahal membunuh utusan adalah tindakan tercela bagi bangsa Arab saat itu.

Sudah banyak pelajaran tentang kepahlawanan yang disuguhkan Islam, dan kali ini Islam ingin menambahkan satu judul lagi, Habib bin Zaid. Dialah teman sekaligus guru kita, agar benar-benar dihayati oleh seluruh manusia.

Musailamah sang pembohong itu mengumpulkan kaumnya pada hari yang telah ditentukan. Dia memanggil Habib bin Zaid yang penuh bekas siksaan para algojonya. Dengan siksaan itu, mereka berharap Zaid mengubah akan pendiriannya.

Menurut penilaian Musailamah, Habib sudah menyerah dan tidak akan menolak jika diminta untuk mengakui kenabiannya di depan orang ramai. Dengan demikian, seakan-akan itu adalah mukjizat yang diberikan kepadanya, dan kaumnya yang selama ini ditipunya akan semakin tertipu.

Musailamah bertanya kepada Habib, ”Apakah kamu bersaksi bahwa Muhammad itu utusan ALLAH?”

Habib menjawab, “Ya, aku bersaksi bahwa Muhammad itu utusan ALLAH.”

Wajah Musailamah langsung pucat.

Musailamah kembali bertanya, “Apakah kamu juga bersaksi bahawa aku adalah utusan ALLAH?”

Dengan mencebir, Habib menjawab, “Aku tidak mendengar.”

Wajah Musailamah semakin merah padam. Rancangan jahatnya sama sekali gagal. Siksaan yang begitu berat tidak mengubah pendirian Habib. Dalam usaha untuk mempertontonkan mukjizat palsunya di depan umum, dia mendapat tamparan keras yang membuatnya tercampak kelembah kehinaan.

Musailamah menjadi terlalu marah.lalu ia perintahkan algojonya untuk membunuh Habib. Tubuh Habib dicincang sepotong demi sepotong. Namun bibir Habib tidak pernah lepas dari ucapan, “La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah”

Seandainya waktu itu Habib menyelamatkan dirinya dengan berpura-pura mengikuti keinginan Musailamah, dengan tetap beri’tikad keimanan dalam hatinya, itu sama sekali tidak mengurangi kualiti keimanannya dan tidak menggugat keislamannya.

Akan tetapi, Habib adalah seorang lelaki yang turut serta dalam Bai’at Aqabah bersama ayah, ibu, saudara, dan makciknya. Sejak saat itu, ia sudah mengemban tanggung jawab bai’at dan keimanan secara sempuma, tanpa memikirkan nasib diri dan nyawanya.

Baginya, kesempatan ini adalah kesempatan terbaik untuk mencapai puncak tertinggi dari kehidupannya. la ingin merasakan nikmatnya ketegaran, kepahlawanan, pengorbanan, dan kesyahidan dalam mempertahankan kebenaran. Sebuah kemenangan yang lebih indah dari semua kemenangan duniawi.

Berita kesyahidan Habib akhirnya sampai kepada Rasulullah. Baginda tabah dalam menghadapi takdir Allah. Baginda telah melihat nasib sang pembohong itu, bahkan melihat tempat kematiannya.

Adapun Nusaibah binti Ka’ab, ibunda Habib, ketika mendengar berita kematian anaknya, menahan kemarahan cukup lama, lalu bersumpah menuntut bela. la bertekad menancapkan sendiri tombak dan pedang ke tubuh Musailamah.

Langit menjadi saksi kekecewaan, kesabaran dan ketabahan wanita ini. Sejak saat itu, ia bertekad untuk berada di samping wanita itu untuk melaksanakan sumpahnya.

Waktu pun bergerak dengan cepat dan terjadilah pertempuran Yamamah.

Khalifah Abu Bakar menyiapkan pasukan besar yang akan dikirim ke Yamamah. Nusaibah turut serta dalam pasukan itu, kemudian turut berjuang di medan perang. Pedang di tangan kanannya dan tombak di tangan kirinya. Sedangkan bibirnya selalu meneriakkan, “Di mana musuh Allah, Musailamah?”

Tatkala Musailamah terbunuh dan pengikutnya berguguran bagai daun kering berjatuhan dari pepohonan, bendera Islam makin berkibar tinggi. Nusaibah yang badannya penuh luka dengan sebatab pedang dan tombak berdiri tegak di sana. Ia mengingat wajah anaknya tercinta. Ia seakan melihatnya memenuhi semua ruang dan waktu. Setiap kali ia memandang bendera kemenangan yang berkibar, ia melihat wajah anaknya ikut berkibar dan tersenyum penuh kemenangan.

Inilah catatan kisah cinta dan pengorbanan dalam Islam. Inilah pengertian cinta yang hakiki. Moga kita menjadi sepertinya!