Thursday, August 28, 2014

5 Tahun Time To Change

Bulan ini genap 5 tahun +Time To Change berada di pelayaran dunia internet, memuatkan ratusan artikel variasi tema bermula dengan sebuah cetusan artikel ringkas pada 3 Ogos 2009 yang memberi dampak kepada gerak yang ingin di kuak oleh penulis sepanjang memberi khidmat di blog kecil ini,
"Give a second to think about islam...
How much you are ready yourself to be mujahideen?
This is a time to change our self...
Insya ALLAH..."
5 tahun bukanlah masa yang singkat. Saya mula membina blog ini kira-kira bulan pertama kemasukan di UKM, sehinggalah kini masih lagi setia menulis di sini walaupun sudah beberapa kali berpindah-randah dari segi branding dan teknikal.

+Time To Change mengalami perubahan besar akhir tahun lepas apabila saya mengambil keputusan untuk mula venture dalam Wordpress, namun seketika bersama platform baru tersebut tidak dapat mengatasi kepuasan menulis dan berkongsi dalam platform percuma bernama Blogspot.

Ya, mungkin seperkara lagi alasan mengapa self-hosted Wordpress tidak mendapat tempat di hati sebagaimana Blogspot adalah kerana ianya berbayar dan bayarannya bukanlah murah berbanding dengan kemampuan kewangan sendiri buat masa ini.

Kerisauan sering muncul apabila Runaway Journal mendapat limpahan traffic sehinggakan saya terpaksa menambah bandwitdh.

Memikirkan saya tidak berniat untuk membuat sebarang untung melalui blog, maka saya mengambil keputusan untuk kembali kepada Blogspot, meninggalkan Wordpress sekadar menjadi platform rasmi yang menunjukkan profil saya di dunia internet.

Langsung tidak dinafikan Wordpress sangat mengagumkan dan begitu jauh umpama langit dan bumi jika dibandingkan dengan Blogspot dari pelbagai sudut, saya mengambil jalan zuhud dengan terus setia dengan produk Google ini. Sila jangan ketawa wahai pembaca sekalian!

Beberapa kali orang bertanya, mengapa kau suka sangat menulis?

Saya tiada jawapan untuk soalan itu. Passion? Mungkin juga.

Hasil dari penulisan di +Time To Change, kini saya menjadi penulis regular untuk RoketKini.com dan pernah dijemput untuk menjadi penulis di sebuah syarikat yang menjalankan konsultasi kewangan Islam, perbankan dan hartanah. Namun begitu, saya terpaksa menolak tawaran tersebut memikirkan saya tiada kepakaran yang mendalam dalam niche perniagaan mereka.

Itu antara coretan dalam tempoh 5 tahun saya menulis di sini. Banyak kenangan yang tidak dapat dilupakan, subhanallah!

Walaupun begitu, saya masih belum mencapai maksud sebenar saya membina blog ini. Ianya masih belum benar-benar memberi kepuasan yang sepatutnya. Sering kali saya merasa ada sesuatu yang kurang, atau missing, sepanjang menulis di sini.

Saya menulis secara konsisten mengenai politik dan sosial masyarakat. Kebanyakan penulisan di sini merangkumi 2 topik besar ini bermula dari artikel pertama lagi. Saya berusaha untuk memberi kaitan kepada setiap ketetapan yang berlaku dalam negara ini kepada persoalan bagaimana masyarakat perlu bersikap dan bertindak.

Apabila saya membaca semula penulisan bermula tahun 2009, saya sedar dan insaf corak penulisan saya begitu banyak berubah. Walaupun saya yakin bahawa sesekali prinsip itu tidak berubah, namun cara saya mengadaptasi corak penulisan dengan perubahan masa yang saya lalui perlu diakui.

Justeru, untuk para pembawa memberi penilaian dan persepsi pada diri saya berdasarkan tulisan saya tahun 2010 adalah tidak munasabah sama sekali. Ianya sudah menjadi sejarah. People change, kata bijak pandai yang tahu berbahasa Inggeris.

Demikian juga halnya dengan saya, perubahan itu hal yang wajib untuk kita hadapi. Berbalik kepada persoalan saya masih belum merasa puas atau something missing sepanjang 5 tahun ini, saya yakin akan menemui jawapannya tidak lama lagi.

Saya berhasrat blog ini selain menjadi tempat luahan pandangan terhadap dunia politik semasa, ianya turut menjadi lapangan catatan harian termasuklah perkara yang gagal dilaksanakan melalui Runaway Journal, iaitu menjadi jurnal pengembaraan di bumi Tuhan yang maha luas ini.

Runaway Journal terbina atas interpretasi saya terhadap semangat “Endless quest for meaning”, satu impian yang paling tinggi mengatasi impian-impian lain dalam hidup saya, untuk mengembara dan membina kehidupan secara nomad, terus bergerak dan tidak terhenti cuma di satu bandar, dan berusaha mencari makna diri dan hakiki kehidupan yang sebenar.

Saya yakin, +Time To Change akan menjadi platform saya untuk meneruskan impian tersebut. Dengan izin tuhan, maka tiada apa yang mustahil.

Terima kasih buat para pembaca yang setia, yang tidak jemu melayari blog ini saban ketemu penulisan yang baru. Saya membuat janji pada diri sendiri, untuk terus menulis dan menulis sehingga tuhan tidak lagi mengizinkan kelak.

Terima kasih untuk yang memberi komentar di ruangan komen blog – walaupun kini sangat berkurangan, dan komen-komen di media sosial terutamanya Facebook dan Twitter. Moga itu semua mendapat hikmah kebaikan dari tuhan yang Maha Esa.

Cinta ini tidak akan mati, sesungguhnya saya menulis demi sebuah cinta. Terima kasih wahai pembaca yang saya cintai...

Saturday, August 23, 2014

“To all Malaysians, welcome home!”

I’m trying my best to not be overwhelmed saddened to what happened to MH17, by kept reminding myself will be over it. Actually, it is not. It’s not easy to try forgetting to what happening now.

As today everyone talking in every corners about the mourning day and the arrivals of bodies and ashes of the unfortunates MH17, my tears pooling.

People say, let move on. Let bygone be bygone. The latter much more important.

Perhaps it might be true, however, the tragedy itself is a solid remembrance to ourselves to realize how the country should stand up portraying our unity, voices and hearts.

Let it be a memoriam to MH17, forever. To all Malaysians, who those on board, welcome home. We are with you, our thought and pray with you, always in our hearts.

When I saw a few pictures showing the kids crying at the caskets of their parent’s bodies, realizing they losing their parent in a very young ages, its too much for me. I can’t take it but cried. I can’t even imagine how they would going through all of this.

My pray and thought will always with you. I hope you will be strong to hold your tears. I don’t want to put any encouraging words here, as I think it seems very hypocritical to myself. If I ever in that situation, I know I couldn’t hold my tears too, dik...

Menangislah adik... menangislah. Sesungguhnya tuhan pasti tidak akan mempersiakan air matamu itu...

Thursday, August 14, 2014

Because Family Matters

Family is a funny thing. The Hari Raya experiences so far throughout my entire life, this year taught me personally the most important thing I need to understand: family.

To understand what is family meant. And to understand why Mother Teresa ask me to go home and love my family. And to understand too, family is a funny, actually.

Encounter with someone who never came home for decades, suddenly making a U-turn and got realized they are still have a family behind, can’t it make something to ponder about?

My dear reader, again, family is a funny thing. Our parents, our siblings, they’re always there, you know?

They’re always there. Our stinky little brother. Our super stinky sister. Our super-duper stinky older brother. They’re always there, for us.

Deep inside of us. We don’t choose them, we get mad at them, and sometimes we feel like we don’t want them. But we always, always need them. Undeniably.

I know guys – yes, a very close one and other, mostly narrated by my dad – who haven’t talked to their parents in decades, some because they passed and some because they’re bigoted pieces of shit.

These guys are doing fine without Mom and Dad around. They have successful careers, great friends; some even have families of their own.

But no matter what they've accomplished in their lives, no matter how many people are around who love and cherish them, there’s still an empty hole that long-gone family left behind that nobody else will ever fill.

Don’t get me wrong. It’s not like they’re crying into their soup every night. Like I said, they’re happy with their lives, with who they are, really happy.

But no matter how old we get, no matter what we achieve, we always have that little kid we once were somewhere inside of us. And that kid, well, that kid can’t help but love his mother and father, and even that pesky sister or brother.

When it’s bad, family can wound you so deep, you’re sure healing from a combination herpes infection and skydiving accident would be easier.

But when it’s good, when you feel that love and know it’s always going to be there, no matter what, when you have a strong net underneath you every day, ready to catch you if you fall - well, then there’s nothing better than having family.

And that, my dear reader, is the thing about our parents and siblings, annoying though they might be – even if we don’t always like them, they’re ours and we can’t help but love them.

Because family matters. Family matters too much.